Berita

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan/Net

Dunia

Presiden Erdogan: Tentara Bayaran Rusia Jadikan Libya Tempat Pertumpahan Darah

SENIN, 13 JULI 2020 | 08:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan merasa geram dengan banyaknya tentara bayaran yang disebutnya telah mengubah Libya menjadi tempat pertumpahan darah. Ia meminta seluruh komunitas internasional untuk berhenti mendukung kelompok-kelompok yang tidak sah di wilayah tersebut.

Erdogan mengatakan, para tentara bayaran itu harus disingkirkan dari negara di wilayah Afrika Utara itu dan para putschist (orang yang mengambil bagian dalam kudeta) harus dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan yang mereka lakukan sebagaimana dibuktikan oleh kuburan massal yang baru-baru ini terungkap di Tarhuna dan kota-kota lain.

“Memberikan stabilitas langsung ke Libya tidak hanya untuk kepentingan Libya tetapi seluruh wilayah. Penguatan politik dan ekonomi Libya akan meringankan Afrika Utara dan Eropa. Komunitas internasional harus membuat pilihan dengan mendukung pemerintah yang sah dan menghentikan para putschist yang melakukan kejahatan perang,” kata Erdogan dalam sebuah wawancara, seperti dikutip dari Hurriyet, Minggu (12/7).


Tanpa menyebutkan nama, Erdogan menuduh komandan Tentara Nasional Libya (LNA), Jenderal Khalifa Haftar telah melakukan kejahatan perang di Libya, yang telah lama didukung oleh sekelompok negara termasuk Rusia, Prancis, Uni Emirat Arab dan Mesir.

Menurut sebuah laporan daripengawas sanksi independen, ada ribuan tentara bayaran yang bergabung untuk berperang bersama Haftar. Mereka diketahui berasal dari perusahaan bernama Wagner Group, sebuah perusahaan keamanan swasta Rusia yang memiliki sedikitnya 1.200 pejuang di lapangan. Selain itu, ada juga pejuang Suriah dan Sudan yang telah dikerahkan di Libya dalam beberapa periode terakhir.

Pasukan GNA yang didukung Turki mengusir pasukan Haftar dari Tripoli dan maju menuju Sirte, sebuah kota penting yang menghubungkan Tripoli dengan Benghazi. Erdogan mengatakan rencana Haftar dan pendukungnya untuk menguasai Tripoli telah digagalkan berkat sikap tegas Turki,.

“Keuntungan di lapangan ini akan menandakan perdamaian dan kenyamanan di setiap bagian Libya,” katanya.

Ketika ditanya soal ketegangan yang sedang berlangsung di Mediterania timur antara Turki dan koalisi negara-negara NATO, termasuk Yunani, Siprus Yunani, Perancis dan Mesir, Erdogan mengatakan tujuan negara-negara ini adalah untuk membuat Turki membatasi gerakan di wilayah tersebut dan bertujuan untuk merebut hak dan kepentingannya atas cadangan hidrokarbon.

“Kami mengatakan kepada mereka, berulang kali, bahwa ini salah dan melanggar hukum. Kami telah menggarisbawahi bahwa Turki berkomitmen untuk melindungi hak-haknya. Tujuan mereka adalah membatasi Turki, yang memiliki garis pantai terpanjang di Mediterania ke garis pantai kecil yang cukup hanya untuk menangkap ikan, ”katanya.

Erdogan mengatakan Turki berhasil menggagalkan upaya itu dengan meluncurkan pengeboran sendiri di wilayah itu.

“Saya katakan secara terbuka dan jelas: Kami tidak ingin ketegangan di Mediterania, tempat lahirnya berbagai peradaban melalui sejarah. Sebaliknya, kami percaya bahwa sumber daya hidrokarbon di wilayah ini dapat menawarkan peluang bagi seluruh wilayah,” ungkapnya.

Erdogan mengatakan, dirinya siap bekerja sama dengan negara-negara itu asalkan semua dilakukan dengan cara-cara yang benar dan adil.

“Pintu kami terbuka untuk proposal apa pun berdasarkan kerjasama dan pembagian pendapatan yang adil. Kami siap bekerja dengan semua orang berdasarkan prinsip-prinsip ini."

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya