Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Politik

Kemarahan Jokowi, Dramaturgi Politik Tutupi Kegagalannya Memimpin

KAMIS, 09 JULI 2020 | 22:25 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Presiden Joko Widodo dinilai kembali menjalankan dramaturgi politik setelah marah-marah kepada para menterinya saat rapat kabinet pada 18 Juni kemarin.

Saat ini, Presiden Jokowi kembali melakukan dramaturgi dalam rapat terbatas percepatan penyerapan anggaran pada 7 Juli kemarin.

Begitu yang disampaikan analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun usai melihat video yang diunggah di akun YouTube Sekretaris Presiden.


Menurut Ubedilah, Presiden Jokowi tengah menakut-nakuti para menterinya untuk menutupi kegagalannya memimpin.

"Itu menakut-nakuti para Menteri untuk menutupi kegagalan dirinya dalam memimpin. Ini secara teoritik bisa dikategorikan sebagai Dramaturgi politik. Setelah drama marah-marah di sidang kabinet kemudian dilanjutkan dramaturginya di dalam rapat terbatas (ratas)," ucap Ubedilah Badrun kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (9/7).

Dramaturgi tersebut kata Ubedilah, akan berdampak memunculkan dramaturgi berikutnya. Yang paling memungkinkan ialah dilakukan oleh para menterinya Jokowi.

"Semua dramaturgi itu biasanya akan memunculkan dramaturgi berikutnya," kata Ubedilah.

Ubedilah pun menyontohkan hal tersebut sudah terjadi setelah video Presiden Jokowi marah-marah muncul. Dimana, banyak menteri yang melakukan hal serupa yang tidak biasanya.

"Apa yang dilakukan Menkumham dan Mentan, dan lain-lain itu juga adalah dramaturgi yang dipertontonkan untuk merespon dramaturgi Presidennya," terang Ubedilah.

Bukan tanpa alasan, Presiden Jokowi kata Ubedilah, dinilai sudah merencanakan hal tersebut dengan baik. Namun, tidak berdampak pada reshuffle seperti video marah-marah yang sebelumnya.

"Saya sebut Jokowi lakukan dramaturgi karena ternyata marahnya direncanakan dengan baik dan tidak berdampak serius pada evaluasi dan reshuffle kabinet. Rekaman marahnya saja baru di publis setelah 10 hari berlalu," pungkas Ubedilah.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya