Berita

Ketua KPK RI, Firli Bahuri/RMOL

Politik

Firli Bahuri: Pemberantasan Korupsi Perlu Dukungan Seluruh Komponen Bangsa

KAMIS, 09 JULI 2020 | 20:58 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pemberantasan tindak pidana korupsi dinilai tidak bisa hanya dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tanpa adanya dukungan seluruh komponen bangsa.

Begitu kata Ketua KPK, Firli Bahuri yang menegaskan bahwa pemberantasan korupsi perlu mendapatkan dukungan mulai dari eksekutif, legislatif, yudikatif hingga seluruh anak bangsa.
Tujuannya untuk memperbaiki sistem secara menyeluruh.

"Sebagaimana yang pernah sering saya sampaikan di berbagai kesempatan bahwa  korupsi terjadi karena banyak faktor. Tidak ada sebab tunggal orang melakukan korupsi. Korupsi terjadi karena keserakahan, kesempatan, kebutuhan dan hukuman yang rendah," ucap Firli Bahuri kepada wartawan, Kamis (9/7).

"Sebagaimana yang pernah sering saya sampaikan di berbagai kesempatan bahwa  korupsi terjadi karena banyak faktor. Tidak ada sebab tunggal orang melakukan korupsi. Korupsi terjadi karena keserakahan, kesempatan, kebutuhan dan hukuman yang rendah," ucap Firli Bahuri kepada wartawan, Kamis (9/7).

Jenderal polisi bintang tiga ini menilai, korupsi selalu dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kekuasaan, adanya kesempatan serta minimnya integritas.

Korupsi pun kata Firli juga tidak terlepas dari sistem sebagai penyebabnya, atau biasa disebut sebagai korupsi karena sistem, termasuk akibat adanya dinasti politik.

"Untuk itu banyak hal bidang yang perlu dibenahi. Semisal, sistem ekonomi, sistem tata niaga, sistem pelayanan publik, sistem pengadaan barang dan jasa, sistem perijinan, sistem rekruitmen dan sistem import export. Termasuk juga sistem politik dan sistem Pilkada langsung perlu menjadi pengkajian kita semua," jelas Firli.

Firli menambahkan, terdapat tiga pendekatan pemberantasan korupsi yang merupakan inti kerja KPK dalam pemberantasan korupsi.

Tiga hal itu terdiri dari, pendekatan pendidikan masyarakat, pendekatan pencegahan dan pendekatan penindakan.

Ketiganya kata Firli, harus dilaksanakan secara menyeluruh, integral, sistematik serta berkelanjutan.

"Pendekatan pendidikan masyarakat menyasar kepada tiga pihak, yakni jejaring pendidikan formal dan informal mulai dari TK sampai perguruan tinggi, penyelenggara negara dan partai politik, serta badan usaha milik negara dan swasta. Pendekatan ini akan mempengaruhi mindset dan cultureset segenap elemen bangsa untuk tidak berkeinginan melakukan korupsi," terang Firli.

Selanjutnya kata Firli, pendekatan pencegahan mempunyai sasaran untuk menghilangkan peluang atau kesempatan dengan merasuk kepada perbaikan, penyempurnaan dan penguatan sistem.

Prinsip tujuan pencegahan adalah menghilangkan kesempatan atau peluang korupsi dengan cara pembangunan atau perbaikan sistem. Di samping itu dengan perbaikan sistem maka diharapkan pendapatan negara dan daerah bisa meningkat.

"Karenanya, perlu dilakukan penelitian dan pengembangan guna menelaah dan meneliti terhadap sistem yang ada. Keberadaan Litbang menjadi penting untuk mengkaji dan meneliti, apakah sistemnya gagal, sistemnya lemah atau sistemnya buruk. Dengan pendekatan ini kita harapkan kesempatan dan peluang melakukan korupsi akan hilang. Para calon koruptor pun tidak memiliki peluang dan kesempatan untuk korupsi karena sistem sudah baik," tutur Firli.

Yang terakhir tambah Firli ialah pendekatan dengan cara penindakan. Penindakan hukum yang tegas serta efektif akan menimbulkan kesadaran semua pihak untuk patuh terhadap hukum.

Firli meyakini dengan ketiga pendekatan pemberantasan korupsi tersebut, KPK dapat memberi andil besar dalam pemberantasan korupsi. Selain itu, hilangnya tindakan korupsi menjamin pembangunan nasional tetap berlangsung, sehingga Indonesia bebas dari korupsi dapat terwujud.

"Bukan hanya sekadar membuat rasa takut akan sangsi yang berat. Kalau hanya menimbulkan rasa takut, maka para koruptor akan melakukan inovasi dan berkreasi untuk menemukan cara-cara baru  agar tidak tertangkap. Penindakan hukum yang dilakukan secara profesional, akuntabel,  berkeadilan, berkepastian hukum dan  menjunjung tinggi HAM, akan membuat para calon koruptor takut melakukan korupsi," pungkas Firli.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya