Berita

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu/Net

Muhammad Najib

Akhirnya Israel Gentar Untuk Meneruskan Rencananya Menganeksasi Tepi Barat Milik Palestina

RABU, 01 JULI 2020 | 13:59 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SEHARUSNYA hari ini (1 Juli 2020) Israel mulai menganeksasi sekitar 30 persen wilayah Palestina di Tepi Barat, termasuk sejumlah pemukiman ilegal yang berada di dalamnya, sebagaimana direncanakan dan diumumkan ke publik sejak beberapa bulan lalu.

Kemarin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di hadapan anggota parlemen (Knesset) dari partainya Likud, menyampaikan penundaan realisasi rencana tersebut. Tidak disebutkan apa penyebabnya dan sampai kapan penundaan dilakukan.

Bila dicermati secara seksama, sebenarnya banyak alasan yang memaksa Israel menunda atau membatalkan sama sekali rencana tersebut, yang dapat dikelompokkan menjadi dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.


Dari faktor internal muncul demonstrasi dari rakyatnya sendiri yang menentang rencana tersebut. Ada kekhawatiran dari rakyat Israel bahwa aneksasi akan memicu perang antara Israel dan musuh-musuhnya, yang akan menimbulkan hilangnya rasa aman dan penderitaan berkepanjangan warga negara Zionis ini.

Faktor lain, tidak adanya dukungan penuh dari partai Biru-Putih yang dipimpin Benny Gantz, yang kini menjadi parner koalisi Likud yang dipimpin Netanyahu dalam memerintah persatuan.

Gantz beralasan bahwa tanggal 1 Juli bukanlah waktu yang sakral, dan masalah penanganan Covid-19 jauh lebih mendesak baik jika diukur dari sudut tanggungjawab negara terhadap  kesehatan masyarakat dan penyelamatan nyawa manusia, maupun dari sudut penyelamatan ekonomi.

Selain itu, ada juga spekulasi bahwa Netanyahu tidak sepenuh hati melakukan langkahnya, aneksasi lebih sebagai retorika politik untuk menghibur  konstituennya  agar baik dirinya maupun partainya sudah berjuang untuk merealisasikan janji politiknya, sebagimana berulang-ulang diutarakan ke publik pada musim kampanye yang lalu.

Sementara faktor eksternal yang cukup menentukan adalah sikap Washington yang semula memberikan angin dukungan, kini berubah menjadi ragu-ragu. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa ternyata Amerika menjadi satu-satunya negara di dunia yang memberikan dukungan secara terbuka.

Mayoritas negara ternyata menentang secara terbuka, termasuk negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa. Sementara negara-negara Arab yang menjadi sahabat Israel, yang tadinya diharapkan memberikan dukungan secara terbuka, ternyata diam atau menentangnya secara terbuka juga.

Faktor lain yang cukup mengkhawatirkan Tel Aviv, jika dalam kondisi seperti ini rencana tersebut dipaksakan, maka bukan mustahil Palestina akan mendeklarasikan diri secara sepihak sebagai negara merdeka, memanfaatkan momentum dukungan yang luar biasa dari masyarakat global.

Bagaimana nanti ujung dari rencana aneksasi yang sudah terlanjur diumumkan, akan sangat ditentukan oleh banyak faktor. Dan faktor yang paling menentukan adalah siapa yang akan terpilih menjadi presiden Amerika dalam pilpres yang akan diselenggarakan November mendatang.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya