Berita

Ilustrasi Said Nursi/Net

Muhammad Najib

Mengenal Said Nursi, Seorang Pembaharu Di Turki

JUMAT, 19 JUNI 2020 | 20:12 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SAID Nursi lahir dari keluarga Kurdi yang taat pada 1877 M, di desa Nurs, Provinsi Bitlis, di wilayah Turki bagian Timur. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, dari pasangan Mirza dan Nuriye atau Nura.

Saat masih kecil, ia belajar agama pada kakak kandungnya yang bernama Abdullah. Ia kemudian sekolah di madrasah yang dipimpin Muhammad Afandi di Desa Thag pada 1886. Ia juga menimba ilmu dari para ulama terkemuka di daerahnya.

Pada 1891, ia berangkat menuju Bayezid, di Turki bagian Timur. Di tempat itulah, Nursi mempelajari berbagai cabang ilmu agama seperti: tafsir, hadist, Bahasa Arab, ilmu kalam, fikih, mantiq, dan ilmu-ilmu ke-Islaman lainnya. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, ia melahap buku-buku serius termasuk buku usul fiqih sekelas Jam‘ul Jawâmi’.


Dengan bekal ilmu yang telah dipelajarinya, Nursi kemudian memulai fase baru dalam kehidupannya dengan memasuki berbagai forum ilmiah seperti munâzharah (adu argumentasi dan perdebatan) membuatnya kemudian dikenal publik.

Pada tahun 1894 M, ia pergi ke kota Van. Di sana ia mempelajari matematika, ilmu astronomi, kimia, fisika, geologi, filsafat, dan sejarah. Ia kemudian menulis berbagai tema, baik terkait dengan agama secara langsung maupun tidak langsung.

Keluasaan wawasan yang dimilikinya, ditambah kedalaman pemahamannya tentang berbagai hal, serta kesalahannya dalam menjalankan kehidupan, menyebabkan dirinya dikenal sebagai sufi yang dijuluki “Badiuzzaman” yang dapat diartikan sebagai "pioner", "pembaharu" atau "mujadid" di zamannya.

Inti gagasannya tentang Islam yang dinamis, berisi spirit reaktualisasi ajaran Islam dikaitkan dengan kemajuan sain dan teknologi modern. Hal ini terlihat jelas dari ungkapannya: “Cahaya kalbu terdapat pada ilmu-ilmu agama, sementara sinar akal terdapat pada ilmu sains".

Pada tahun 1907 M, ia pergi ke Istanbul untuk menyampaikan gagasannya kepada Sultan Abdul Hamid II, untuk membangun Universitas Islam di wilayah Turki Timur dengan nama Universitas Azahra, di mana studi-studi keagamaan dipadukan dengan sains dan teknologi modern.

Perhatiannya pada dunia politik sangat besar. Ia sangat aktif berceramah dan menulis untuk menjelaskan berbagai gagasannya tentang kebebasan dan pemerintahan menurut Islam.

Ketika konstitusi kedua diundangkan dalam sistem Pemerintahan Turki Usmani pada 23 Juli 1908, yang menyebabkan Sulthan tidak lagi memiliki kekuasaan secara absolut, karena adanya pengawasan Parlemen, Nursi mendukungnya.

Selanjutnya Nursi tidak setuju dengan keterlibatan Turki dalam perang Dunia Pertama. Namun ketika negara telah mengambil keputusan, ia dan para pengikutnya ikut dalam perang melawan Rusia dan menyerang lewat Qafqaz.

Ketika pasukan Rusia memasuki kota Bitlis, Badiuzzaman bersama dengan para muridnya mati-matian mempertahankan kota tersebut, hingga akhirnya terluka parah dan tertawan oleh Rusia. Ia kemudian digelandang ke penjara tawanan perang di Siberia. Beruntung, Nursi dan sejumlah tawanan berhasil melarikan diri.

Saat tiba kembali di Istanbul, ia dianugerahi medali perang dan mendapatkan sambutan luar biasa dari khalifah, pemuka Islam, tokoh-tokoh masyarakat, dan masyarakat luas. Said Nursi kemudian diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyyah oleh pimpinan militer. Lewat lembaga ini sebagian besar bukunya yang berbahasa Arab diterbitkan.

Pada tahun 1922 M, ketika terjadi kekacauan politik menjelang runtuhnya Kesulthanan Turki setelah menderita kekalahan dalam perang dunia pertama,  Badiuzzaman pergi ke kota Van. Di Gunung Erek tidak jauh dari kota, Nursi melakukan uzlah  selama dua tahun.

Setelah Kekhalifahan Turki Utsmani runtuh dan digantikan dengan Republik Turki, Nursi berjuang agar Republik Turki yang baru didirikan oleh Mustafa Kemal Ataturk dan kawan-kawan agar tetap menggunakan nilai-nilai Islam dalam mengelola negara.

Sayangnya, Ataturk justru memilih arah yang berlawanan. Republik Turki dijadikan negara sekuler dan anti-Islam. Akibatnya, muncul berbagai macam pemberontakan yang dimotori berbagai perkumpulan sufi.

Meskipun tidak terlibat dalam pemberontakan, Badiuzzaman dan sejumlah ulama menjadi sasaran penguasa. Ia dan sejumlah ulama diasingkan ke wilayah Barat Turki pada musim dingin 1926 M. Selanjutnya Nursi dipindah seorang diri ke Barla, sebuah daerah terpencil untuk menjauhkannya dari pengikutnya dan masyarakat luas. Selama dalam pengasingan ini, Nursi menulis sebagian besar Risalah Nur.

Selama tidak kurang dari 25 tahun, Nursi terus berpindah-pindah dari satu pengasingan  ke pengasingan lain, dan dari satu penjara ke penjara lain, diikuti intimidasi dan teror mental maupun fisik, sebagai cara penguasa untuk menghentikan perjuangannya.

Said Nursi wafat pada 23 Maret 1960, pada usia 83 tahun, di kota Urfa. Beliau meninggalkan sebuah buku monumental berjudul: Risalah Nur yang sampai saat ini sudah diterjemahkan kedalam lebih dari 60 bahasa. Karya lainnya di antaranya: Jam’u al-Jawami, Syarh al-Mawakif, dan Tuhfah.

Tokoh-tokoh mutakhir Islam di Turki, seperti: Necmettin Erbakan, Fethullah Gulen, dan Recep Tayyip Erdogan, semuanya menganggap Said Nursi sebagai gurunya, walaupun diantara mereka belum tentu pernah bertatap muka secara langsung dengan sang Mujaddid, yang di Turki lebih dikenal dengan sebutan Badiuzaman.

Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

TNI AL dan Kemhan Belanda Bahas Infrastruktur Bawah Laut Kritis

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:00

Beda Imlek dan Cap Go Meh, Ini Makna dan Rangkaian Tradisinya

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:52

Kabar Baik! Bansos PKH dan Bencana Bakal Cair Jelang Lebaran

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:36

KPK Sita 50 Ribu Dolar AS dari Kantor dan Rumah Dinas Ketua PN Depok

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:27

Mengupas Multi Makna Kata 'Lagi'

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:18

Keberadaan Manusia Gerobak Bakal Ditertibkan Jelang Ramadan

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:07

Prabowo Diyakini Bisa Dua Periode Tanpa Gibran

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:02

KPK Endus Pencucian Uang Korupsi Sudewo Lewat Koperasi

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

Selengkapnya