Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un/Net

Dunia

Peningkatan Ketegangan Dengan Korsel Jadi Cara Korut 'Sentil' AS

JUMAT, 19 JUNI 2020 | 16:40 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Hubungan Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) baru-baru ini dipenuhi oleh berbagai pernyataan dan tindakan bermusuhan. Yang paling membuat tegang adalah ketika Korut meledakkan kantor penghubung antar Korea di Kaesong pada Selasa (16/6).

Mantan Sekretaris Kebijakan Luar Negeri Presiden Korsel, Chang Ho-jin, mengatakan, peningkatan ketegangan yang dilakukan oleh Korut semata-mata ditujukan sebagai peringatan kepada Amerika Serikat (AS) untuk segera menyelesaikan masalah dengan Pyongyang.

"Trump dapat merasakan kebutuhan untuk berbicara dengan Korea Utara untuk mengelola situasi untuk saat ini, dan secara terbuka mengklaim bahwa ia telah menangkal kemungkinan provokasi militer yang mengancam Kim," ujar Chang Ho-jin, seperti dilansir Reuters.


"Dengan meningkatkan ketegangan antar-Korea, Korea Utara juga bisa berharap Korea Selatan akan mendorong lebih keras untuk mendapatkan pembebasan sanksi untuk proyek-proyek ekonomi bersama yang sejauh ini sulit dipahami," lanjutnya.

Pernyataan Chang sendiri sesuai dengan berbagai peringatan yang diberikan oleh Korut.

Seperti ketika adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong yang mengatakan akan mengakhiri komunikasi antar-Korea yang tidak perlu.

Sejak 2018, Kim Jong Un dan Presiden AS, Donald Trump telah melakukan tiga kali pertemuan. Di Singapura, Vietnam, dan Zona Demiliterisasi (DMZ) yang menjadi perbatasan antar-Korea. Semuanya dilakukan untuk menghasilkan kesepakatan denuklirisasi.

Kendati begitu, hingga saat ini, sudah dua tahun lamanya, dialog tersebut tidak memberikan kemajuan meski Korut telah melakukan berbagai persyaratan yang diminta oleh AS.

Di samping itu, Korsel selama ini juga telah menyuarakan akan membantu Korut untuk mencabut sanksi AS dengan imbalan tidak akan ada provokasi di Semenanjung Korea.

Seperti halnya dialog denuklirisasi, sanksi tersebut tidak kunjung dicabut meski di tengah pandemik Covid-19.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya