Berita

Kelompok Boogaloo Bois/Net

Dunia

Boogaloo Bois, Kelompok Ekstrimis Baru Di AS Yang Benci Polisi Dan Suka Pakai Kemeja Khas Hawaii

JUMAT, 19 JUNI 2020 | 14:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Gerakan kelompok ekstrimis yang menyebut diri mereka sebagai Boogaloo Bois kembali menjadi perhatian pasca aksi protes massa yang membakar beberapa wilayah di Amerika Serikat, terutama setelah para penyelidik menghubungkan seorang anggota mereka sengan penembakan dua perwira di California.

Aparat telah lama menduga bahwa Boogaloos, kelompok anti-pemerintah yang diidentifikasi sebagai milisi warga libertarian, ada di balik gerakan Black Lives Matter, seperti dikutip dari Refinery29, Jumat (19/6).

Kelompok ini memiliki pengikut dari gerakan kanan jauh, neo-Nazi, supremasi kulit putih, dan anarki. Nama Boogaloo telah digunakan sebagai istilah untuk pemberontakan dan perang sipil beberapa tahun oleh para gamer dan ruang obrolan bawah tanah.


Sebenarnya, Boogaloo sudah beberapa bulan lalu menjalankan aksi mereka melawan aparat hukum, membuat onar hingga membunuh polisi atau warga.

Kementerian Kehakiman pada Selasa lalu mendakwa seorang pengikut Boogallo, seorang sersan Angkatan Bersenjata California, Steven Carillo, atas pembunuhan dua polisi Oakland saat unjuk rasa Black Lives Matter pada 29 Mei lalu.

Delapan hari kemudian, Carillo kembali membunuh seorang polisi ketika ditemukan senjata dan bahan pembuat bom di mobilnya dekat Santa Cruz. Dia menorehkan darahnya sendiri di kap mobilnya kata "Boog" dan "Saya menjadi tidak masuk akal", meme populer kelompok ekstrimis kanan.

Pada 1 Mei lalu, pendukung Boogaloo di Colorado, Denver ditangkap bersama beberapa bom pipa miliknya saat akan mengikuti unjuk rasa untuk menentang larangan untuk mencegah penularan wabah virus corona. Dan pada 11 April lalu, pengikut kelompok ini di Texas didakwa melakukan ancaman teror setelah memposting rekaman video mengatakan dirinya akan menyerang dan membunuh aparat polisi.

Boogaloo memang sangat membenci polisi dan otoritas pemerintah. Mereka membawa senjata, mengenakan vest militer, dan terkadang mengenakan pakaian ala Hawaii.

Sebagian besar mereka terhubung melalui media sosial. Studi Tech Transparency Project pada April lalu menemukan 125 akun grup terkait Boogaloo di Facebook dengan puluhan ribu pengikutnya. Mereka mendiskusikan senjata, strategi meledakkan dan taktik melawan pemerintah yang berkuasa.

Banyak kelompok ekstrimis Boogaloo dibentuk setelah adanya pandemik Covid-19 yang menyerang Amerika Serikat dan pemerintah lokal mulai memberlakukan lockdown.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya