Berita

Sulthan Abdul Hamid II/Net

Muhammad Najib

Mengenal Sulthan Abdul Hamid II, Pembela Sejati Palestina

SABTU, 13 JUNI 2020 | 14:58 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

TANGGAL 1 Juli 2020, dicanagkan sebagai waktu untuk menganeksasi sekitar sepertiga wilayah Palestina di Tepi Barat yang berbatasan dengan Yordania, beserta sejumlah pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang selama ini berstatus ilegal.

Aneksasi ini sebetulnya merupakan rangkaian aneksasi yang sangat agresif yang dilakukan Zionis Israel di bawah pemerintahan Partai Likud yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu.

Sebelumnya mereka telah menganeksasi Yerusalim yang kemudian secara formal dietapkan sebagai ibukota Israel, kemudian dataran tinggi Golan milik Suriah, kini goliliran Tepi Barat, besok entah wilayah mana lagi.


Kalau merujuk pada agenda Zionis Israel yang ditetapkan dalam Kongres ke-2 pada 1898 di Swiss, maka bukan saja seluruh wilayah Palestina yang akan dirampas, akan tetapi jauh lebih luas dari itu, karena termasuk wilayah sejumlah negara Arab tetangganya.

Sulthan Abdul Hamid II (1842-1918) yang dikenal sangat religius dan sebagai seorang muslim yang taat berkuasa selama 33 tahun (1876-1909), tampaknya menyadari betul bahayanya agenda Zionis Israel ini. Karena itu ia menolak secara tegas dan melawan berbagai bentuk  manuver politik yang dilakukan oleh gerakkan Zionisme yang saat itu dipimpin oleh Theodore Hetzel.

Walaupun sangat berat, akan tetapi Sulthan Abdul Hamid tetap tegar. Semula ia didekati dengan tawaran menggiurkan, berupa seluruh utang Kesulthanan Turki Usmani akan dilunasi, ditambah pinjaman tanpa bunga untuk keperluan pembangunan Turki, asalkan Sulthan mengizinkan masyarakat Yahudi dari berbagai negara untuk mengunjungi Palestina kapanpun dan untuk tinggal di sana berapa lamapun.

Pendekatan ini ternyata gagal melunakkan kerasnya hati Abdul Hamid, karena ternya sang Sulthan tidak sedikitpun tergoda. Mereka kemudian menggunakan strategi lain, dengan membangun kerjasama dengan berbagai kelompok oposisi di dalam negri Turki, khususnya dengan komunitas Armenia yang menginginkan negara sendiri yang terpisah dari Turki.

Aliansi lain yang dibangun adalah dengan merayu komunitas Yahudi di Turki untuk mendukung agenda Zionis dengan janji akan mengantarkan mereka kembali ke tanah leluhurnya di Palestina. Komunitas Yahudi di Turki saat itu cukup besar, karena Kesulthanan Turki Usmani menampung dan memberikan perlindungan pada mereka saat diusir dari Spanyol, bersamaan dengan runtuhnya dinasti Islam di Andalusia yang dikenal dengan peristiwa Reconquista dalam bahasa Spanyol atau Reconquest dalam bahasa Inggris.

Strategi lain yang dilakukan dalam waktu bersamaan adalah dengan mendekati sejumlah oknum pejabat Kesulthanan, termasuk keluarga dekat Sulthan sendiri. Tawaran uang dan dukungan politik pada kompetisi politik domistik, kemudian melahirkan konspirasi dan berbagai bentuk intrik politik, pemberontakan bersenjata, sampai upaya pembunuhan Sulthan.

Semua ini tentu semakin melemahkan sendi-sendi Kesulthanan, yang pada saat bersamaan harus menghadapi Rusia dan kolonialisme Inggris serta Perancis yang berupaya menggerogoti wilayah Turki dan menduduki negara-negara Muslim termasuk yang berada di bawah pemerintahan Turki Usmani.

Sebagai seorang wartawan Theodore Hetzel juga memanfaatkan jaringan media yang dimilikinya khususnya di negara-negara Eropa, untuk menciptakan citra buruk Sulthan Abdul Hamid dan pemerintahan yang dipimpinnya, dengan memanfaatkan berbagai peristiwa yang terjadi khususnya terkait minoritas non-Muslim.

Karena itu masyarakat Eropa percaya bahwa Sulthan sangat otoriter dalam memerintah, kejam dan tidak segan-segan menghabisi lawan-lawan politiknya, serta diskriminatif terhadap minoritas non-Muslim.

Muaranya sang Sulthan dimakzulkan dan diasingkan ke Thessaloniki yang kini menjadi bagian dari wilayah Yunani. Sebagai penggantinya diangkat adiknya bernama Muhammad Hamis yang kemudian diberi gelar Muhammad V.

Di bawah Muhammad V pecah Perang Dunia Pertama, yang dimenangkan oleh Inggris dan sekutunya. Palestina kemudian lepas dari tangan Turki dan beralih ke tangan Inggris. Sejak saat itu orang-orang Yahudi dari seluruh dunia berbondong-bondong bermigrasi dan menetap di Palestina.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya