Berita

Menteri Keuangan Sri Mulyani/Net

Politik

Indonesia Seperti Kecanduan Utang

SABTU, 13 JUNI 2020 | 04:55 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dipandang hanya mengandalkan utang untuk mengatasi perekonomian di Indonesia.

Pandangan tersebut dikatakan pakar ekonomi Dradjad Wibowo dalam webinar bertema "Negara Harus Bagaimana Pasca Covid-19: Perspektif Hukum, Ekonomi dan Pendidikan" yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah NTB, Jumat (12/6).

"Memang yang paling cepat sekarang nih utang, tapi itu gak terhindarkan untuk berutang. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah kita ini seperti kecanduan utang, dikit-dikit larinya ke utang, dikit-dikit larinya ke utang," ucap Dradjad.


Apalagi kata Dradjad, Indonesia harus membayar lebih yield atau kupon atau bunga utang melebih negara lain seperti Filipina.

"Kementerian Keuangan dengan cukup bangga mengatakan berhasil menerbitkan utang dolar pada sekitar akhir April atau awal Mei, surat utang dolar serinya RI 0130 kemudian tenornya 10,5 tahun yieldnya 3,9 persen," jelas Dradjad.

Padahal kata Dradjad, Filipina dengan tenor yang sama, bunga utangnya hanya sebesar 2,457 persen.

"Kita terkena yield itu 3,9 persen. Nah waktu itu dikatakan itu murah, saya coba cek di Filipina ternyata pada tanggal 28 April 2020 itu bendahara nasionalnya itu mengatakan Filipina baru saja memperoleh dana dari dari obligasi dolar pemerintah sebagai 2,35 miliar dolar dan yang untuk tenor 10 tahun itu ada 1 miliar dolar itu kuponnya hanya 2,457 persen," jelasnya.

Sehingga kata dia, Indonesia harus membayar yield 1,4 persen lebih mahal dibanding Filipina.

"Untuk 1 miliar berarti 14 juta dolar lebih mahal, kalau dikalikan kurs sekarang mungkin sekitar Rp 160an miliar mungkin ya tiap tahun harus bayar dibanding Filipina," terang Dradjad.

Dradjad melanjutkan, ia mengaku mempunyai cara alternatif lain yang tidak ada di dalam buku teks ekonomi agar mendapatkan uang tanpa melakukan utang.

"Ada cari lain, dan cara itu pernah saya lakukan ketika saya membantu BIN, cara-cara ini memang nggak mudah, harus sangat terukur dan harus sangat tepat ngaturnya, karena kalau tidak efeknya akan panjang," katanya.

"Dan orang-orang yang ditaruh disitu juga harus orang yang memang full komitmennya untuk keuangan negara, bukan untuk galang dana bagi partai apalagi perkaya diri sendiri untuk korupsi," pungkasnya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya