Berita

Peneliti senior LIPI, Prof Syamsuddin Haris/RMOL

Politik

Setuju Dengan Pendapat Prof Jimly, Syamsuddin Haris: Presidential Threshold Harus Ditiadakan

JUMAT, 12 JUNI 2020 | 13:30 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Dukungan terkait ditiadakannya ambang batas presiden atau presidential threshold (PT) kembali bertambah. Setelah Pakar Hukum Tata Negara Prof Jimly Asshiddiqie, kali ini dukugan datang dari Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Syamsuddin Haris.

Melalui akun Twitter pribadinya, Syamsuddin Haris menilai, adanya ambang batas Presiden justru tidak sesuai dan menjadi anomali dengan sistem presidensial yang dianut oleh negara demokrasi seperti Indonesia.

Menurut Syamsuddin Haris, ketidaksesuaian itu menjadi alasan pentingnya ambang batas dalam pemilihan presiden ditiadakan.


"Prof Jimly. Ambang batas pencalonan presiden harus ditiadakan karena tidak relevan dan merupakan anomali sistem presidensial," ujar Syamsuddin Haris, sambil menautkan tweet Jimly Asshiddiqie pada Jumat (12/6).

Dia mengurai, apabila ambang batas Presiden tetap dipaksakan untuk diberlakukan, maka semestinya tidak lagi menggunakan hasil Pemilu Legislatif (Pileg). Melainkan, berbasis pada jumlah partai politik (Parpol) pengusung.

"Jika dipertahankan, mestinya tidak berbasis hasil Pemilu DPR, tapi berbasis jumlah Parpol pengusung. Saya sudah sampaikan ini saat diminta sebagai ahli oleh MK pada 2019," demikian pendapat Syamsuddin Haris.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya