Berita

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F Silaen/Net

Politik

Rawan Dimanipulasi Oleh Oligarki, Dana Pilkada 2020 Lebih Baik Untuk Bantu Pulihkan Ekonomi Rakyat

KAMIS, 11 JUNI 2020 | 12:53 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Pilkada Serentak 2020 yang menjadi perhelatan politik akbar di pengujung tahun dinilai rawan dibajak oleh oligarki politik lokal dan petahan serta antek-anteknya.

"Pihak incumben (petahana) atau sekurang-kurangnya mesin politik penyokong utama incumben yang akan maju kembali, punya agenda lain yang tidak selaras dengan pemulihan ekonomi agar normal kembali. Alih-alih mau normal kembali, tapi menuju ke sana yang dikerjakan bertolak belakang," ujar Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana), Samuel F Silaen, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (11/6).

Ditambahkan Silaen, pro dan kontra soal pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 ini cukup banyak disuarakan oleh para penggiat demokrasi dkk. Jika yang lain saja bisa ditunda pelaksanaannya, semisal ibadah Haji yang ikut tertunda, Pilkada juga bisa ditunda.


"Hemat saya, dalam kondisi seperti sekarang ini lebih baik jika dana alokasi pelaksanaan pilkada 2020 ini fokus diarahkan kepada perbaikan sektor ekonomi publik/rakyat. Agar roda ekonomi dapat segera pulih dan daya beli masyarakat kembali ke kondisi sebelum empasan pandemik corona," ucap Silaen

Menurut Silaen, ekonomi yang terdampak Covid-19 ini butuh perhatian khusus dan mendalam supaya tahapan-tahapan pemulihan ekonomi berjalan di trek yang benar dan tepat. Pemerintah harus turun tangan membantu penciptaan lapangan kerja didesa-desa/kota-kota juga, agar kerawanan sosial tidak jadi penghambat New Normal.

Sehingga, Pilkada Serentak 2020 ini perlu dikaji kembali soal waktu pelaksanaan yang tepat, agar tidak menimbulkan pemborosan keuangan pusat dan daerah. Karena pelaksanaan pilkada ini jauh dari kebutuhan pokok masyarakat di tengah pandemik Covid-19 ini.

Pilkada itu penting, kata Silaen, tapi jauh lebih penting menjamin tersedianya pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat agar tetap bisa melanjutkan kehidupannya. Maka segala daya dan upaya pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota fokus membantu pemulihan ekonomi rakyat.

"Pemerintah harus mengkalkulasi, mengkaji serius pelaksanaan Pilkada 2020 ini, apa kebaikan dan mudaratnya. Kajian mendalam harus dilakukan atas segala dampak buruk pandemik Covid-19 dan berapa lama waktu dibutuhkan menuju kenormalan baru itu. Supaya roda ekonomi rakyat bisa berjalan lancar dan baik," tutur aktivis kepemudaan itu.

Pasalnya, ditegaskan Silaen, pemulihan ekonomi yang menjadi prasyarat mutlak untuk menjalankan masa 'normal baru' agar kembali normal, tidak akan pernah kembali baik jika tidak ditangani dengan baik pula.

"Rakyat butuh sandang, pangan tersedia (murah dan terjangkau) dalam rangka memasuki masa normal baru. Bukan pilkada, tapi makan minum rakyat Indonesia yang tidak akan bisa digantikan dengan hanya pelaksanaan pilkada serentak itu. Kalau Pilkada apakah lalu kehidupan rakyat langsung jadi baik?" tegas Silaen bertanya.

"Pilkada serentak itu tetap saja dilaksanakan, hanya waktunya perlu di- 'adjustment' agar tidak kontraproduktif di dalam pemulihan ekonomi. Pemerintah harus lakukan pengawasan atau monitoring yang ketat agar tidak terjadi penyimpangan (korupsi)," tandas Silaen.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya