Berita

Anggota PAPD, Agus Rihat P. Manalu/Net

Nusantara

PAPD: Negara Tidak Boleh Kalah Dari Pelaku Bisnis Kotor

SELASA, 09 JUNI 2020 | 09:54 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Perhimpunan Advokat Pro Demokrasi (PAPD) prihatin dan menyayangkan terkait masih adanya kasus penguasaan tambang dan bisnis timah di Bangka Belitung yang beroperasi dengan cara-cara kotor dan tidak sehat.

Anggota PAPD, Agus Rihat P.  Manalu, mengatakan, praktik penguasaan dengan cara oligopoli dan kartel seperti ini harusnya sudah diberantas karena merugikan negara dan masyarakat, bisnis yang tidak berkembang dan hanya memguntungkan segelintir orang.

"Praktik kotor seperti ini akan merugikan dan menggerus pendapatan pemerintah pusat maupun daerah serta menutup peluang para wirausahawan lainnya. Negara tidak boleh kalah oleh para pelaku praktik bisnis kotor begini," ujar Agus Rihat, Selasa (9/6).


"Kita semua paham kok ada seperangkat aturan dan UU terkait bisnis tambang dan pengelolaan SDA Minerba. Artinya ini pelanggaran hukum, anehnya mengapa praktik seperti ini sudah lama berlangsung akan tetapi selama ini terkesan 'aman terlindungi'," ucapnya melanjutkan.

Bagi masyarakat Babel, timah adalah penyumbang dan penyokong utama perekonomian selain komoditas pertanian dan lainnya. Artinya perekonomian Babel masih sangat tergantung oleh timah, sangat strategis bagi pemda dan pusat.

"Berdasarkan info yang kami terima pemain utama di sektor ini dengar-dengar diduga adalah suami dari artis sinetron terkenal tanah air. Ada dugaan, dia adalah orang yang bisa mengatur mana perusahaan penambangan timah yang bisa terus berbisnis dan mana yang harus 'dimatikan'," tutur Agus Rihat.

Jika hal ini dibiarkan berlarut, sehingga terkesan ada "kesengajaan dan pembiaran" pelanggaran oligopoli dan kartel dalam penguasaan bisnis timah di Babel, maka PAPD bersama-sama masyarakat Babel dengan senang hati akan membackup perjuangan masyarakat Babel.

"Kami akan bersama-sama untuk meruntuhkan oligarki dan praktik oligopoli antara penguasa dan pengusaha kotor yang hanya membuat bangsa dan negara ini miskin tetapi memperkaya segelintir orang tertentu," tutup Agus Rihat.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

UPDATE

Kebijakan WFH Sehari Tunggu Persetujuan Presiden

Kamis, 26 Maret 2026 | 12:03

Tito Pastikan Skema WFH Sehari Tak Hambat Layanan Pemda

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:55

Purbaya Guyur Dana Lagi Rp100 Triliun ke Bank Himbara

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:45

Efisiensi Anggaran Harus Terukur dan Terarah

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:33

Pengamat Soroti Pertemuan Anies, SBY, dan AHY: CLBK Jelang 2029

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:22

Prabowo Tambah 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp239 Triliun

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:16

Efisiensi Energi Jangan Korbankan Pendidikan lewat Pembelajaran Daring

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:11

Emas Antam Mandek, Buyback Merosot ke Rp2,49 Juta per Gram

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:01

Akreditasi Dapur MBG Jangan Hanya Formalitas

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:00

KSP: Anggaran Pendidikan Tak Dikurangi

Kamis, 26 Maret 2026 | 10:58

Selengkapnya