Berita

Achmad Purnomo dan Gibran Rakabuming Raka/Ist

Publika

Langkah Negarawan Achmad Purnomo

MINGGU, 07 JUNI 2020 | 08:58 WIB | OLEH: JAYANTO ARUS ADI

Dinamika Pilwakot Solo memasuki fase yang mulai matang. Turbulensi yang sempat mengejut dan menyita perhatian publik kini mereda. Kota yang pernah dipimpin Joko Widodo selama dua periode, meski tak penuh, karena sang Walikota-sekarang Presiden RI naik tingkat terpilih menjadi Gubernur DKI Jaya.

Luar biasa. Ya, luar biasa karena sepak terjang mantan juragan mebel ini membuat jagat politik nasional bergoyang genjrang alias mobat mabit bin meriung riung sebegitu rupa.

Adalah Gibran Rakabuming Raka yang menjadi pemantik suasana Pilwakot Kota Solo menjadi encer. Putra Sulung mantan Walikota Solo, Joko Widodo periode 2005-2012 tiba tiba kedhereng untuk  ikut berlaga. Maaf istilah saya menggunakan terminologi Jawa kedhereng karena Gibran sebelumnya seperti tak berminat terjun ke politik.


Statmennya pun bisa ditafsir mengarah ke sana, yakni tak ingin larut di pusaran politik dinasti. Memang tak ada larangan, dan sah sah saja owner perusahaan catering Cili Pari ini berubah sikap, atau lantas memilih untuk terjun ke gelanggang politik, dalam hal ini Pilwakot Kota Solo. Itu hak dan sangat asasi bagi siapa pun.

Yang menarik di sini langkah dan sikap Gibran tak terlihat dari awal. Artinya minat, kemudian sikap, dan manifestasi itu ditunjukkan tidak terkesan ujug ujug. Kali ini sulit untuk tidak mengatakan keputusan Gibran kenthal nuansa ujug ujug tersebut. Dua indikator yang dapat menjadi pisau analisa terkait langkah politik putra sulung presiden Jokowi itu. Pertama tahapan Pilwakot telah berjalan, dan DPC PDI Perjuangan Kota Solo telah membuat rekomendasi, yakni mengusulkan Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa.

Sampai di sini, catatan yang dapat menjadi refleksi adalah, mengapa Gibran tidak mendaftar ketika DPC PDI Perjuangan Kota Solo membuka pendaftaran. Andai jalur atau mekanisme itu dilalui langkah politik Gibran akan sangat elok. Sebab dengan cara tersebut kontroversi, juga kondusivitas akan lebih menghadirkan suasana kebathinan yang utuh.

Kedua, meski membicarakan ikhwal Pilwakota Kota Solo sama saja membahas agenda yang sudah basi, karena semua itu sudah terjadi, namun setidaknya fenomena ini dapat menjadi renungan secara filosofis juga kultural. Apalagi Solo adalah episentrum budaya jawa yang lekat falsafah adi luhung, juga nilai nilai Jawa yang kita dituntut dapat berlaku kafah, mikul duwur mendhem jero.

Pesan yang ingin saya sampaikan di sini, terkait hal di atas adalah sebagai seorang putra orang nomor satu di pertiwi ini, Gibran setidaknya perlu ngrungkebi nilai nilai dan falsafah tersebut. Dengan begitu ke depan ketika menjadi pemimpim, termasuk insya allah menjadi Walikota Solo secara politis akan teguh dan jejeg dengan paugeran paugeran yang menjadi value tentang Jawa atau sebagai Wong Jowo itu sendiri.

Langkah Negarawan

Indonesia menganut sistem demokrasi. Bukan ambigu, tetapi demokrasi yang kita anut, meski mereduksi nilai nilai demokrasi barat, namun demokrasi kita bukan itu. Demokrasi kita adalah demokrasi Pancasila.

Apa itu Demokrasi Pancasila?? Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang memijakkan sikap, pandangan, dan manifestasi dalam mengimplementasikan nilai nilai itu tidak melepaskan etika, dan sendi sendiri kehidupan berbangsa, bernegara sesuai tata nilai kebudayaan yang telah terpateri, mengakar di bumi pertiwi ini.

Kita terlahir, ditempa dan terbentuk oleh peradaban yang diakui dunia. Kita terlahir, hidup, dan menjalaninya sebagai bangsa beradab, bukan penakluk. Jauh berabab abad silam, sebelum imperialis dan kolonialis datang mencabik, mengoyak, sampai menerungku kedaulatan, kita adalah bangsa yang beradab dengan warisan warisan luhur tiada terkira. Kejayaan Mapapahit, Sriwijaya, mahakarya  agung, seperti Borobudur, Prambanan adalah monumen abadi yang diakui dunia.

Karenanya Pancasila yang memijakan pada nilai nilai di atas, bukan sikap yang ambigu, apalagi banci dengan kelamin yang tidak jelas.  Bukan. Tri Sakti Bung Karno adalah manifestasi nyata atas kepribadian bangsa ini. Nyata dan jelas sekali bagaimana personifikasi ke-Indonesian mereflesikan pemikiran pemikiran Soekarno.

Simak butir butir Tri Sakti yang dicetuskan proklamator, sekaligus Presiden I Republik Indonesia, yakni  ‘Berdaulat secara politik, Berdikari secara ekonomi, dan Berkepribadian secara budaya’ . Menilik butir butir di atas, itulah pandangan, sikap yang orisinal, otentik dan riil untuk menjadi kredo sebuah bangsa. Bukankah ketika itu kita justru disegani, juga dihormati oleh bangsa bangsa lain di belahan bumi ini.

Karenanya kembali menguh sikap dan pandangan kita dalam berbangsa, jadiri itu mesti dikedepankan. Demokrasi secara substantif bukanlah mekanisme presure untuk mencari kemenangan. Namun demokrasi adalah piranti melihat perbedaan dalam bingkai keberagaman, sebagai sebuah taman sari bernegara.

Kembali dalam konteks kontestasi untuk menduduki jabatan publik, demokrasi tidak semata mata  unjuk kekuatan sebagai jalan merebu ingat merebut bukan meraih kekuasaan. Bukan. Saya prihatin melihata kecenderungan yang menjadi fenomena umum, Pilkada, baik itu Pemilihan Bupati, Walikota, dan juga Gubernur tak lebih panggung adu kekuatan. Gladiator gladiator diadu, siapa yang kuat mereka yang menang.

Bukan seperti  itu, demokrasi Pancasila bukan demokrasi seperti itu. Anda mau setuju atau tidak, silakan, tetapi saya ingin meningatkan dan meneguhkan demokrasi Pancasila harus tetap memijakkan pada nilai nilai ke-Indonesiaan. Sudah pasti dalam berjalan ada berbeda pendapat, tetapi bukan perbedaan adalah cara untuk menyempurnakan sebuah harmoni.

Seperti  sekali lagi taman sari, kebun binatang menjadi tidak menarik jika di sana hanya ada satu jenis binatang, karena itu akan menjadi kandang saja. Juga pasar malam, di sana akan menarik jika ada dangdut, keroncong, tong setan dan sulap, karena kalau hanya tong setan saja, namanya akan menjadi kandang setan...

Akhirnya sebagai penutup, sesuai dengan judul catatan ini, sungguh kami menyampaikan takzim dengan sikap Achmad Purnomo yang menunjukkan kenegarawanannya undur, bukan mundur dari Pilwakot Kota Solo. Tak elok dan tak bijak, di saat rakyat tengah berkubang, bergulat, bertahan hidup dari Pandemi Covid yang belum jelas kapan berakhirnya kompetisi berebut, bukan untuk meraih atau menjadi Walikota Solo justru terjadi.

Atas dasar itulah Achmad Purnomo, yang saat ini adalah Wakil Walikota mendampingi Hady Rudyatmo, yang akrab dipanggilan Rudy  dan berdasar Keputuan Pleno DPC PDI Perjuangan Kota Solo telah direkomendasikan menjadi calon walikota berpasangan dengan Teguh Prakosa memutuskan untuk undur, alis menarik diri.

Keputusan yang angat menginspirasi, memberi pelajaran dan pencerahan. Apalagi di tengah situasi prihatin karena Pandemi Covid 19 langkah dan keputusan Achmad Purnomo merupakn bentuk teladan yang kita perlu catatan sebagai langkah negarawan.

Penulis adalah Anggota Pokja Hukum Dewan Pers, Pemimpin Umum RMOL Jateng.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya