Berita

Siti Nur Azizah baru mendapat dukungan resmi dari Partai Demokrat untuk maju di Pilkada Tangsel/Net

Politik

Belum Dapatkan Tambahan Koalisi, Putri Wapres RI Terancam Gagal Nyalon Di Tangsel?

MINGGU, 31 MEI 2020 | 03:27 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

. Putri Wapres KH Maruf Amin, Siti Nur Azizah, belum sepenuhnya bisa mendaftar dalam Pemilihan Walikota Tangerang Selatan 2020. Sejauh ini, dia baru mendapat surat rekomendasi dari DPP Partai Demokrat.

Artinya, masih butuh tambahan koalisi dari partai-partai pengisi kursi DPRD Tangsel. Karena Demokrat hanya punya 5 kursi di DPRD.

Siti Nur Azizah memang telah resmi mendapatkan surat rekomendasi dari DPP Partai Demokrat pada 29 Mei 2020 untuk bertarung di Pilkada Tangsel.


Alur Siti Nur Azizah sebagai bakal calon (Bacalon) Walikota Tangsel sudah terlihat ketika dirinya masuk kepengurusan DPP Partai Demokrat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen).

Walau sudah mendapat dukungan dari partai berlambang Mercy ini, jalan Siti Nur Azizah masih berat. Karena dia harus menggenapkan 10 kursi untuk bisa mencalonkan diri dalam Pilkada Tangsel 2020.

Mengingat Demkorat hanya punya 5 kursi di Tangsel, hal ini akan jadi pekerjaan yang sangat berat bagi Siti Nur Azizah untuk bisa mendaftarkan diri ke KPU. Salah-salah, Siti Nur Azizah bisa gigit jari karena tak mampu memenuhi persyaratan parpol pendukung.

Terlebih lagi, partai yang dikejarnya, PKS dan Gerindra, belum memberikan lampu hijau dukungan politiknya. Kedua partai sama-sama tidak ingin menjadi pendamping atau hanya menduduki kursi Wakil Walikota.

Terkait kondisi yang dihadapi Siti Nur Azizah, pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno mengatakan, langkah untuk bisa berkompetisi di Pilkada Tangsel tergantung negosiasi yang dilakukannya.

"Ya kan, sejauh ini belum definitif partai politik yang mendukung Azizah, hanya Demokrat yang pasti. Sementara PKS sama Gerinda belum ngasih lampu hijau arah dukungan politiknya ke mana, tergantung negosiasi," terang Adi saat dikonfirmasi Kantor Berita RMOLBanten, Sabtu (30/5).

Adi juga melihat negosiasi yang akan dibangun Siti Nur Azizah akan semakin alot. Karena, sudah mematok dirinya untuk menjadi Walikota, bukan untuk Wakil Walikota.

"Problemnya Azizah ini sudah mematok sebagai calon Walikota, sementara dia butuh partai pengusung yang lain. PKS juga mengusung harga mati sebagai calon Walikota bukan Wakil, Gerindra juga begitu mematok harga calon Walikota. Ya tinggal nanti nego saja kalau mau bikin poros baru. Problemnya partai yang belum menentukan sikap sama-sama mau jadi orang nomer satu," jelasnya.

Sejauh ini, hanya Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan dari Partai Golkar yang mulus untuk mendaftar ke KPU. Begitu pula dengan Muhamad yang sudah diusung PSI dan PDI Perjuangan.

Menurut Adi, poros baru yang akan dibangun Siti Nur Azizah bisa saja terjadi, jika negosiasi yang dilakukannya berhasil membuat PKS dan Gerindra melunak.

"Nah kubu ketiga ini belum terkonsolidasi, tapi bisa buat satu poros lagi. Dengan satu catatan, mau enggak mereka ini berkoalisi. Kalau masing-masing ngotot mau jadi calon (Walikota) semua, ya deadlock enggak bakal jadi poros ketiga," tutur Adi.

Akan tetapi, bekal sebagai putri Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia tampaknya akan digunakan Siti Nur Azizah untuk mengincar kursi PKS dan Gerindra.

Tak ada pilihan lain bagi Azizah selain membawa nama sang ayah yang menjadi Wapres untuk memuluskan langkahnya menuju kursi nomor satu di Tangsel.

"Ya suka tidak suka, munculnya Azizah ke pentas politik ini, karena dia memang anaknya KH Maruf Amin. Karena sebelumnya dia tidak punya riwayat karier dari politik, hanya sebatas PNS dari Kemenag, itu harus diakui. Salah satu bekal elektoral dia, ya karena dia putri Wapres, udah itu aja. Baru-baru ini saja dia jadi Wasekjen. Satu tahapan fase politik yang baru dia mulai," tutupnya.  

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya