Berita

Angkatan Udara AS Letnan Kolonel Francisco Nieves melakukan tes cepat COVID-19 untuk anggota Garda Nasional Puerto Riko di Pangkalan Garda Nasional Muñiz Air/Net

Dunia

Hadapi Kemungkinan Gelombang Kedua Pandemik Covid-19, Mark Esper: Militer AS Siapkan Tes Antibodi Dan Fokus Pengiriman Tim Medis

JUMAT, 29 MEI 2020 | 07:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Militer Amerika Serikat (AS) bersiap menghadapi kemungkinan gelombang kedua virus corona dengan sejumlah perencanaan. Bantuan akan disalurkan lebih tepat sasaran untuk kota-kota dan negara bagian yang membutuhkan, serta memperpendek waktu karantina untuk pasukan, dengan kata lain karantina 14 hari mungkin tidak diperlukan.

Menteri Pertahanan Mark Esper, jelang perjalanan pulang dari markas besar Korps Marinir di Pulau Parris, South Carolina, mengatakan Pentagon sedang menyusun berbagai rencana. Namun, menurutnya, ketika wabah virus melonjak dan muncul gelombang kedua, maka pasukan AS tidak akan dikerahkan dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Pasukan akan melakukan gebrakan yang lebih kuat lagi.

Militer AS melakukan tes antibodi pada anggota pasukan yang telah sembuh dari Covid-19 untuk menentukan apakah plasma mereka dapat digunakan pada orang lain untuk mencegah atau mengobati virus.


Esper berbicara dengan para pemimpin militer beberapa waktu lalu apakah mereka tertarik untuk mendapatkan unit darah atau plasma itu. Kebanyakan pasukan menyambut antutias hal itu.

Esper mengaku dia sendiri telah mengambil tes untuk melihat apakah dia memiliki antibodi virus dan saat ini sedang menunggu hasilnya, seperti dikutip dari Military Times

Tes antibodi tidak seperti tes usap hidung yang digunakan untuk mendiagnosis virus.

Ketika seseorang terjangkit Covid-19, sistem kekebalan tubuh mereka merespons dengan menciptakan antibodi, yang menyerang si virus. Lama-kelamaan antibodi ini terkumpul dan bisa ditemukan di plasma, komponen cairan darah.

Tes darah dapat menunjukkan apakah seseorang memiliki virus corona di masa lalu yang menurut kebanyakan ahli itu berguna karena bisa menjadi pelindung seseorang.

Belum diketahui level antibodi apa yang dibutuhkan untuk kekebalan atau berapa lama kekebalan mungkin bertahan dan apakah orang dengan antibodi masih dapat menyebarkan virus.

Pentagon, kata Esper, juga mengambil pandangan luas tentang cara terbaik untuk menanggapi setiap wabah di masa depan.

Esper juga menyoroti bantuan militer yang mengalir ke masyarakat saat wabah terjadi. Ke depannya ia memilih untuk mengirim lebih banyak lagi staf medis untuk rumah sakit kapal.

Amerika Serikat memiliki kapal rumah sakit yang sedianya dibuat untuk melayani pasien korban perang atau bencana alam berat. Kapal ini hanya dioperasikan di daerah konflik nun jauh di sana. Namun, ternyata pandemik ini mengubah segalanya. Kapal rumah sakit itu pun akhirnya dikerahkan untuk membantu menangani pandemi Covid-19.

Dua kapal rumah sakit Angkatan Laut AS berangkat ke New York City dan Los Angeles, pada 23 Maret lalu untuk merawat beberapa pasien.

Sayangnya, ternyata dua kapal rumah sakit itu kurang dimanfaatkan, tidak seperti dugaan semula. Akhirnya mereka menarik dokter dan perawat keluar dari fasilitas itu dan mengirimkannya ke rumah sakit setempat, di mana mereka dapat lebih berguna dan meningkatkan kerja mereka.

Esper mengatakan itu menjadi pelajaran penting untuk ia dan jajarannya menelaah lagi kegunaan kapal rumah sakit.

"Saya pikir itu menjadi pelajaran besar untuk kita pikirkan lagi,” kata Esper.
Esper dan Jenderal Mark Milley, ketua Kepala Staf Gabungan, menduga virus bisa saja kembali dalam gelombang yang lebih kecil. Militer harus segera menyediakan peralatan perlindungan pribadi dan dokter ke wilayah-wilayah yang membutuhkan.

“Jika kita berasumsi bahwa gelombang terbesar yang menghantam adalah gelombang pertama, kita telah menunjukkan bahwa kita memiliki kapasitas rumah sakit, kapasitas ventilator, dan yang lainnya,” kata Esper. "Jika kita bisa menangani gelombang pertama itu, kita bisa menangani hal lain setelah itu."

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

KPK Amankan "Surat Tekanan" dari Rumah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Kamis, 16 April 2026 | 18:15

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kasus Penyiraman Andrie Yunus Masuk Sidang Terbuka Akhir April

Kamis, 16 April 2026 | 18:09

Emil Dardak Prihatin Tiga Kepala Daerah Jatim Kena OTT KPK

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Pimpinan Ombudsman: Kasus Hery Susanto Terjadi Sebelum Menjabat

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Erick Thohir Bawa Kemenpora Tembus Top 5 Kementerian Kinerja Terbaik

Kamis, 16 April 2026 | 17:40

Puspen TNI Pastikan Sidang Kasus Andrie Yunus Terbuka

Kamis, 16 April 2026 | 17:37

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

Kamis, 16 April 2026 | 17:28

Fokus pada Inovasi dan Kesejahteraan, Bupati Mimika Raih KWP Award 2026

Kamis, 16 April 2026 | 17:22

Sudewo Ngaku Kangen Warga Pati

Kamis, 16 April 2026 | 17:17

Selengkapnya