Berita

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule/Net

Politik

Iwan Sumule: New Normal Cuma Cara Pemerintah Lepas Tanggung Jawab Lagi

KAMIS, 28 MEI 2020 | 14:50 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Rencana pemerintah mulai memberlakukan new normal mendapat kritik dari sejumlah tokoh dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam. Kritik dilayangkan lantaran rencana yang didengungkan dirasa membingungkan bagi publik.

Hal ini lantaran pemerintah masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan sebaran kasus corona yang terus meningkat dan belum melandai. Sementara di satu sisi, pemerintah sudah membuka rencana pelonggaran.  

Kritik atas rencana ini tegas dilayangkan oleh Ketua DPR RI Puan Maharani. Putri Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri itu tidak ingin kebijakan pemerintah justru menambah kebingungan baru di tengah masyarakat.


Puan tidak ingin penerapan teknis new normal terburu-buru dan tidak matang.

Teranyar kritik disampaikan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Melalui siaran pers yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Muti, ormas yang dibentuk jauh sebelum Indonesia merdeka itu menuntut agar rencana new normal dikaji ulang.

Muhammadiyah ingin ada penjelasan secara transparan dan jujur dari pemerintah sebelum kebijakan itu diambil.

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule mengaku sepaham dengan Puan Maharani dan Muhammadiyah. Baginya penerapan new normal bukan hanya akan membingungkan publik, tapi semakin pertegas bahwa pemerintah ingin hindari tanggung jawab pada rakyat.

“Bagaimana tidak, transmisi Covid-19 kan belum teratasi,” ujarnya kepada redaksi, Kamis (28/5).

Menurutnya rencana itu didengungkan karena pemerintah enggan memenuhi kebutuhan rakyat selama masa PSBB. Sebab jika PSBB terus diperpanjang, maka keuangan negara akan goyang untuk memberi subsidi ke rakyat. Terlebih uang negara di era Joko Widodo yang terlalu bergantung pada utang memang tipis.
 
“Jadi kalau PSBB diperpanjang terus, biaya untuk memenuhi kebutuhan rakyat tentu akan meningkat. Ini juga mempertegas pemerintah tak punya uang. Utangan pun belum dapat,” urainya.

Modusnya, sambung Iwan Sumule, seperti saat pemerintah menghindari karantina wilayah dan lebih memilih PSBB. Sebab pemerintah enggan menggelontorkan dana besar untuk menjamin kehidupan rakyat yang berada di rumah.

Seharusnya, Jokowi cukup menyatakan mundur jika merasa tidak mampu menyelamatkan rakyat, ketimbang harus terus berkilah tanpa solusi nyata.

“Kenapa tak mundur saja kalau sudah tak mampu dan tak punya solusi,” tekan Iwan Sumule.

Di balik kritik pada new normal yang kian masif tersebut, Iwan Sumule mengaku tergelitik saat ada pihak yang membela dan menyudutkan para pengkritik.

Salah satunya sebagaimana dilakukan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono. Arief menyebut bahwa langkah Jokowi mengambil kebijakan new normal, sementara mereka yang mengkritik belum paham tentang dasar pengertian kondisi new normal.

“Ini lucu, ternyata masih ada yang bilang new normal sudah tepat,” sindirnya mengakhiri.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya