Berita

Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro/Net

Politik

The New Normal: Antara Ghost Protocol Dan Desentralisasi Global

KAMIS, 28 MEI 2020 | 05:54 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Indonesia hari ini ibarat tokoh Ethan Hunt dalam film Ghost Protocol, sebagai tim mission impossible yang harus mengalahkan musuh utama yakni virus corona baru atau Covid-19.

Begitu dikatakan Alumnus Lemhannas PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, di Jakarta, Kamis (28/5).  

"Yang menjadi kegundahan adalah, sekalipun Covid-19 masih menjadi pandemi, tim mission impossible ini tetap harus dapat mengantarkan masyarakat ke dalam tatanan kehidupan baru," kata dia.


Bagi Putut Prabantoro, misi ini sangat berat, jika tidak dapat dikatakan mustahil karena Indonesia harus menyelesaikan permasalahannya sendiri termasuk mandiri dalam segala hal.

Tanpa disadari, semua negara terperangkap dalam desentralisasi global, kondisi dimana setiap negara harus fokus pada persoalan domestik yang ternyata sama dengan Indonesia.

Setelah Covid-19 menjadi pandemi, kata dia, masing-masing pemerintah me-lockdown-kan negaranya dan melarang pendatang asing masuk ke wilayahnya. Setidaknya 68 negara telah menyatakan larangan kepada pendatang asing termasuk Indonesia.

Artinya setiap negara akan menyelamatkan hidupnya, berjalan sendiri sampai pada keyakinan pandemi sudah usai.

“Karena orang harus hidup, sementara Covid-19 belum ada penawarnya, setiap negara yang terdampak menyiapkan protokol new normal untuk mengantarkan masyarakatnya ke tatanan kehidupan baru. Indonesia tidak terkecuali," katanya.

"Indonesia harus segera membangun kembali seluruh sendi kehidupan yang terdampak Covid-19 termasuk ekonomi dan sosial meski kondisinya sudah tidak sama,” dia menambahkan.  

Menurutnya, new normal merupakan habitus baru dalam kehidupan manusia ketika suatu negara dalam pengaruh Covid-19. Habitus baru itu menyangkut cara baru untuk hidup termasuk berpikir, berkomunikasi, berperilaku dan bertindak.

Oleh karena itu, new normal harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk mewujudkan The New Indonesia yakni negara yang mandiri dan bebas dari ketergantungan.

Melalui new normal ini, habitus baru Indonesia harus berujung pada terwujudnya ketahanan nasional yang dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk ipoleksosbudhankam, demografi, geografi dan manusianya.

“Meskipun dianggap mustahil atau impossible, sebenarnya sudah kepalang tanggung. Karena desentralisasi global terbentuk, seharusnya new normal atau habitus baru Indonesia berakhir pada terwujudnya The New Indonesia yakni negara Indonesia yang mandiri dan kuat,” jelasnya.

Masih terkait dengan new normal, Putut mengaku teringat tag line Ghost Protocol yakni, “No Plan, No Back-Up dan No Guide”. Tag Line ini sekaligus mengingatkannya tentang kekalahan Jepang atas sekutu setelah pemboman Hirosima dan Nagasaki sebagai momentum kemerdekaan Indonesia.

Tidak ada satu rencana, tidak ada dukungan kekuatan dari negara besar ataupun petunjuk menjalankan sebuah negara yang baru merdeka, ketika Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dalam situasi yang serba tidak pasti itu, tim mission impossible yang dipimpin oleh Soekarno menjalankan negara Indonesia.

“Meskipun disebut mustahil, impossible, tidak mungkin, atau tidak pasti, habitus baru atau new normal tetap harus dijalankan jika ingin hidup," ujarnya.

Hanya saja, sambungnya, kemustahilan akan menjadi kenyataan ketika seluruh beban dijatuhkan kepada pemerintah semata dan masyarakat bersikap terserah.

"Ini momentum bangsa Indonesia. Masyarakat dan pemerintah harus menjadi tim mission impossible,” demikian Putut Prabantoro.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya