Berita

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh/Net

Politik

Komisi IX DPR Minta Presiden Pimpin Langsung Gugus Tugas Covid-19 Agar Masyarakat Tidak Kebingungan

RABU, 20 MEI 2020 | 19:09 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Presiden Joko Widodo diharapkan memimpin langsung Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di tanah air.

Hal ini guna mengantisipasi adanya ketidaksinkronan kebijakan diinternal pemerintah itu sendiri hingga membuat masyarakat termasuk kepala daerah kebingungan.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh saat mengisi diskusi daring yang digelar CISDI bertajuk "Kendali Penanganan Covid-19: Milik Pusat atau Daerah?", Rabu (20/5) sore.


"Untuk menangani Covid-19 ini sebenarnya dari awal saya mengusulkan Gugus Tugas (Covid-19) ini harusnya yang memimpin langsung presiden," kata Nihayatul Wafiroh.

Ninik, sapaan karib politisi PKB itu menilai, selain untuk mengantisipasi tumpang tindih kebijakan pemerintah maka susah selayaknya Kepala Negara mengambil alih komando Gugus Tugas Covid-19.
Hal ini juga untuk meredamkan ego sektoral antar kementerian itu sendiri.

"Persoalan ego sektoral ini berdampak langsung bagaimana pemerintah daerah. Andaikata yang memegang gugus tugas ini adalah presiden, saya pikir akan lebih smooth dalam artian tidak ada tumpang tindih dalam pengambilan kebijakan," tegasnya.

Sebagai contoh, Gugus Tugas Covid-19 dipimpin BNPB yang notabene memang tidak diragukan lagi kepemimpinan Doni Monardo selama ini sudah sangat baik. Namun, fokus BNPB kurang menyentuh seluruh sektor penanganan Covid-19 yang dampaknya luar biasa ini.

Selain itu, lanjutnya, masalah pengadaan barang di daerah-daerah yang membutuhkan ventilator ini dilakukan oleh Kementerian Kesehatan yang kemudian harus membuat pengajuan ke Gugus Tugas untuk mengaprove rencana tersebut. Terkadang prosesnya ada ketidak seimbang dan lain hal sebagainya.

Belum lagi, masalah simpangsiur antar kementerian yang acap kali berbenturan satu dengan lainnya yang terkadang berbeda dengan keinginan presiden itu sendiri.

"Satu orang kementerian yang mengeluarkan statement, jarak 15 menit ada yang merevisi. Ternyata bener. Nah kita tidak berharap itu kejadian seperti itu. Itu artinya di bawahnya juga," tuturnya.  

"Persoalan itu pasti membingungkan. Satu sisi bagi rakyat ini bisa menjadi pelajaran yang luar biasa. Sudah PSBB juga begitu-begitu aja, udah di bandara juga masih rame kan begitu (kata masyarakat)," demikian Ninik.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya