Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

AS Terperangkap Dalam Kesulitan Ekonomi Yang Cukup Besar

SABTU, 16 MEI 2020 | 16:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Data ekonomi yang baru dirilis menunjukkan ekonomi AS di tengah wabah virus corona dalam keadaan yang mengerikan dan mungkin tidak bisa pulih dengan waktu cepat. Sekalipun penguncian dibuka, ekonomi AS masih perlu merangkak hingga beberapa waktu.

Pelacakan data produksi industri dan sektor ritel vital yang dirilis Jumat menunjukkan rekor penurunan pada bulan April, bulan penuh pertama dari penutupan untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 yang telah menewaskan hampir 86.000 orang dan menyebabkan sekitar 36,5 juta orang kehilangan pekerjaan.

Jutaan orang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran setiap minggu sejak penguncian dimulai pada pertengahan Maret. Analis ekonomi khawatir AS akan menghadapi kerja keras selama berbulan-bulan karena kemerosotan ekonominya.


Kemunduran konsumen "benar-benar mengejutkan," kata Oxford Economics dalam analisis data penjualan ritel, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (16/5).

"Kombinasi pengangguran yang meningkat, pendapatan yang tertekan, kepercayaan konsumen yang lemah, itu akan terus membebani selera konsumen untuk belanja."

Pengeluaran konsumen telah menjadi bagian penting dari ekonomi AS.  Departemen Perdagangan melaporkan penjualan ritel turun 16,4 persen pada April, yang menunjukkan rekor penurunan satu bulan terbesar.

Bisnis yang paling terpukul adalah mereka yang mengandalkan pembeli di toko-toko, seperti pakaian yang ambruk 78,8 persen, elektronik dan peralatan yang anjlok 60,6 persen, dan furnitur yang turun 58,7 persen.

Pengecer non-toko, seperti mereka yang melakukan bisnis online, adalah satu-satunya titik terang, tumbuh sebesar 8,4 persen.

"Secara keseluruhan ini adalah angka yang mengerikan," kata Neil Saunders, direktur pelaksana GlobalData Retail. Ia menduga ini akan berlangsung beberapa lama bahkan hingga akhir tahun.

"Pemulihan ritel akan lambat, dalam pandangan kami mungkin sampai akhir tahun ini, dan perdagangan mulai kembali ke pola yang lebih normal," katanya.

Sektor otomotif juga terpukul, anjlok lebih dari 70 persen. Sementara output manufaktur secara keseluruhan turun 13,8 persen dalam sebulan, menempatkannya 18 persen di bawah April tahun lalu.

Pengeboran sumur minyak dan gas turun 28 persen, penurunan terbesar dalam catatannya kembali ke tahun 1972 karena permintaan energi runtuh, sementara penurunan sekitar 20 persen dicatat dalam produk logam primer, aerospace, dan peralatan transportasi lain-lain, serta furnitur dan produk terkait.

Sementara itu, sebuah survei New York Federal Reserve Bank terhadap produsen di wilayah New York, rumah bagi salah satu wabah terburuk Covid-19 menunjukkan indeks pulih sebesar 30 poin pada Mei dibandingkan dengan April.

Dalam survei terpisah, statistik Biro Tenaga Kerja melaporkan runtuhnya lowongan kerja dan melonjaknya pemutusan hubungan kerja pada bulan Maret, bulan di mana penguncian meluas.

Jumlah orang yang diberhentikan, dipecat atau dipaksa keluar dari pekerjaan melonjak dengan rekor 9,5 juta bulan itu, sementara lowongan kerja turun 813.000. Bagian terbesar dari penurunan di kedua metrik adalah di sektor akomodasi dan layanan makanan.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya