Berita

Ilusrasi/Net

Kesehatan

Chloroquine Diragukan, Dokter Di China Sarankan Kaletra Untuk Obat Covid-19

JUMAT, 15 MEI 2020 | 06:25 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dokter-dokter China yang selama ini merawat pasien virus corona mengatakan mereka belum melihat bukti bahwa Chloroquine efektif menyembuhkan Covid-19. Mereka malah melihat Kaletra, obat antiretroviral untuk HIV, lebih menjanjikan.

Para dokter juga mengingatkan bahwa beberapa pasien yang pulih bisa kembali positif lagi. Mereka mengungkapkan kekhawatiran tentang kasus tanpa gejala yang belakangan banyak muncul di China.

Chloroquine telah menjadi subyek perdebatan sengit di dalam pemerintahan Amerika Serikat. Presiden Trump sering menggembar-gemborkan itu sebagai obat dan menyarankan mereka yang tidak memiliki gejala untuk minum obat.


Tentu saja hal itu bertentangan dengan saran dari pakar kesehatan masyarakat dan beberapa penasihat medisnya sendiri.

Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengutip sebuah penelitian dari Wuhan, di antara bukti lainnya, untuk membantah pemerintah federal untuk mendistribusikan stok Chloroquine ke wilayah-wilayah yang terkena dampak parah di AS.

Kepala Rumah Sakit Jinyintan Wuhan, Zhang Dingyu, yang telah menangani ratusan kasus virus korona sejak Desember, mengatakan bukti Chloroquine sejauh ini tidak meyakinkan.

“Beberapa pasien mengambilnya sendiri, dan setelah meminumnya, ada hasil yang baik dan buruk,” kata Zhang, seperti dikutip dari WSJ.

Dia juga menyatakan prihatin tentang dosis yang dianjurkan. Otoritas kesehatan setempat memperingatkan pada Februari bahwa overdosis Chloroquine bisa berakibat fatal.

Zhang kemudian merekomendasikan Kaletra, obat yang dibuat oleh raksasa farmasi AS AbbVie Inc, tampaknya lebih efektif untuk pasien Covid-19. Belakangan obat ini pun disebut-sebut tidak berhasil.

Keputusasaan dan kurangnya obat yang telah terbukti telah mendorong dokter di seluruh dunia untuk bereksperimen dengan obat yang belum lulus uji klinis.

Pada 18 Februari, Komisi Kesehatan Nasional China menambahkan Chloroquine fosfat, salah satu bentuk obat yang umum, ke daftar perawatan yang disetujui secara resmi untuk pasien virus corona,  meskipun uji klinis belum selesai.

Kemudian pada 28 Maret, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mengizinkan penggunaan darurat chloroquine fosfat dan hidroksi Chloroquine pada pasien rawat inap.

Zhang Junjian, seorang dokter yang mengelola sebuah rumah sakit lapangan di Wuhan, yang merawat lebih dari 1.700 kasus virus korona, mengatakan 20 hingga 30 pasien telah dirawat dengan Chloroquine, tetapi tidak jelas apakah obat itu efektif.

Karena Mengingat efek obat yang tidak terbukti, akhirnya ia pun berpesan agar hati-hati menggunakan obat tersebut.

Sementara Zhang Dingyu mengatakan bahwa beberapa pasiennya dan tiga rekannya yang terinfeksi telah meminum Kaletra.

"Setelah meminumnya, perubahan di seluruh paru-paru mereka benar-benar dramatis," katanya, seraya menambahkan bahwa tidak satu pun dari mereka yang membutuhkan perawatan kritis.

"Jika saya memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal lagi, saya pasti akan meminta pasien mengambil obat ini.”

Sebuah studi yang diterbitkan bulan lalu di New England Journal of Medicine, berdasarkan tes pada kasus virus corona parah di Jinyintan, menyimpulkan bahwa Kaletra tidak efektif. Tapi Zhang Dingyu mengatakan data tambahan dalam penelitian menunjukkan Kaletra berpotensi.

Banyak kasus di Jinyintan membawa Kaletra bersamaan dengan bismut subtitrate potassium, yang juga efektif, kata Zhang Dingyu. Subtrat Bismut digunakan dalam kombinasi dengan obat lain untuk mengobati infeksi lambung bakteri umum.

Studi yang diterbitkan oleh jurnal BioScience Trends, para dokter di Shanghai juga meresepkan Kaletra, dalam kombinasi dengan obat flu arbidol dan pengobatan tradisional China dan mengatakan beberapa pasien menunjukkan perubahan positif.

Pada penelitian sebelumnya, Kaletra juga dikaitkan dengan hasil terapi positif dalam pengobatan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS).

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya