Berita

Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule dan aktivis senior Hariman Siregar/Net

Politik

Iwan Sumule: Pemerintah Sudah Semena-mena, Kok Rakyat Masih Happy?

RABU, 13 MEI 2020 | 19:00 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pemerintah sudah semakin semena-mena terhadap rakyatnya sendiri. Bahkan di saat masyarakat tengah berjuang untuk bertahan hidup di saat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengangguran akibat pandemik Covid-19, pemerintah masih tega untuk mencekik leher rakyat.

Begitu luapan kekesalan yang disampaikan Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule melihat Presiden Joko Widodo yang baru saja menerbitkan Perpres 64/2020 tentang Jaminan Kesehatan.

Pasalnya, perpres ini dihadirkan untuk menaikkan iuran peserta BPJS Kesehatan. Perpres mengatur bahwa iuran peserta mandiri kelas I menjadi Rp 150.000. Iuran ini naik dari sebelumnya sebesar Rp 80.000.


Kemudian, iuran peserta mandiri kelas II menjadi Rp 100.000 dari Rp 51.000. Ketentuan besaran iuran di atas mulai berlaku pada 1 Juli 2020.

Perpres juga mengatur mengenai iuran BPJS Kesehatan untuk kelas III. Di mana nilai angsurannya masih belum naik atau masih sebesar Rp 25.500. Tetapi pada tahun 2021 angsuran kelas III ini naik menjadi Rp 35 ribu.

Bagi Iwan Sumule, perpres Jokowi itu semena-mena. Ini lantaran perpres serupa yang pernah diterbitkan Jokowi, pada Oktober tahun lalu, yaitu Perpres 75/2019 telah dibatalkan Mahkamah Agung (MA). Inti perpres itu sama, menaikkan iuran peserta BPJS Kesehatan.

“MA batalkan kenaikan tersebut. Sekarang bikin lagi Perpres 64/2020 naikkan BPJS,” ujarnya kepada redaksi, Rabu (13/5).

Tidak hanya penerbitan perpres ini yang jadi sorotan Iwan Sumule, Perppu 1/2020 yang telah disahkan DPR pun turut menjadi bukti kesewenangan pemerintah.

Menurutnya banyak pasal kontroversial dalam Perppu Corona tersebut, khususnya mengenai pasal 27 ayat 1, 2, 3 yang berpotensi menimbulkan kasus Bank Century jilid II.

“Pengesahan Perppu 1/2020 pun cacat hukum. Kami akan gugat ke MK setelah UU diberi nomor. Pemerintah sudah semena-mena, kok rakyat masih happy. Aneh!” tegasnya.

Kepada para mahasiswa yang tahun lalu berunjuk rasa menolak RUU KUHP dan UU KPK baru, Iwan Sumule mengingatkan bahwa Perppu Corona jauh lebih berbahaya. Sebab, sejumlah fungsi DPR dan lembaga tinggi lainnya terpangkas oleh perppu tersebut.

“Jadi aneh juga kalau mahasiswa tidak protes seperti tahun lalu,” tutupnya penuh tanda tanya kekecewaan.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya