Berita

Mantan wakil menteri perdagangan luar negeri China Long Yongtu/Net

Bisnis

China Berisiko Dikucilkan Dari Tatanan Ekonomi Global Pasca Pandemik Covid-19

SELASA, 12 MEI 2020 | 07:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sikap sejumlah negara yang melancarkan aksi protesnya kepada China dan menyalahkan China atas wabah virus corona, dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap tatanan ekonomi global pasca pandemik.

Mantan wakil menteri perdagangan luar negeri  Long Yongtu, menyimpulkan, China bisa jadi akan menghadapi isolasi dari tatanan ekonomi global pasca wabah virus corona. 

“Potensi isolasi geopolitik ini berasal dari kejatuhan ekonomi global pasca wabah ini,” ujar Yongtu, seperti dikutip dari SCMP, Senin (11/5).


Ia menyoroti, semakin banyak negara diperkirakan akan mengikuti Amerika Serikat dalam mengkritik China karena penanganan virus tersebut.

“Setelah pandemik, akan ada perubahan signifikan dalam perdagangan internasional, investasi, dan rantai industri. Epidemik ini telah menyebabkan kerusakan besar pada globalisasi,” ujar Long. Ia mendesak perusahaan-perusahaan China agar segera meningkatkan kecepatan ekspansi internasional mereka.

Penyebaran Covid-19 secara signifikan telah mengganggu rantai pasokan global, mengekspos ketergantungan negara-negara lain pada China untuk produk-produk vital, dan memicu kekhawatiran tentang eksodus yang lebih cepat dari perusahaan-perusahaan asing.

Direktur Akademi Nasional Lembaga Ilmu Sosial untuk Keuangan dan Pembangunan, Li Yang, berkomentar atas sikap Long tersebut.

"Kami memiliki banyak alasan untuk mengatakan bahwa aliansi internasional sedang dibentuk untuk mengucilkan China dan yuan," kata Li Yang. “Kami tidak punya pilihan lain, selain membuat yuan lebih kuat dan menjadikan yuan sebagai mata uang internasional. Tentu saja, atas dasar yang sama, juga penting untuk membuat China lebih kuat," ujarnya.

Sementara itu AS, Uni Eropa, Australia, dan negara-negara lain telah meningkatkan ketegangan geopolitik terhadap China dengan menyerukan penyelidikan independen untuk menentukan asal virus.

Sebagian dari negara-negara itu juga mendesak China untuk meminta maaf dan membayar reparasi.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya