Berita

Ilustrasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberi isyarat kepada negara-negara di peta sambil memberikan ceramah tentang prioritas kebijakan luar negeri Israel/Net

Dunia

Israel Tidak Ada Di Peta MAD Diungkap Pertama Kali Oleh Netizen, Jubir Minta Maaf Jelaskan Kesalahan Edit

SENIN, 11 MEI 2020 | 15:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Militer Jerman meminta maaf atas keteledorannya yang tanpa sengaja menghapus peta Israel dalam laporan tahunan. Dalam draft awal laporan 2019, Badan Intelijen Militer  (MAD) menggambarkan Israel dengan warna yang sama dengan negara tetangga Yordania.

Dari situlah terjadi kesalahan sehingga wilayah Israel seperti tidak nampak dalam peta.

Juru bicara MAD Peter Weier menjelaskan dalam versi pertama dari 'Laporan MAD' kesalahan terjadi pada peta wilayah operasional Bundeswehr dengan partisipasi MAD, menurut laporan Middle East Monitor.


"Ketika secara grafik mengedit area operasi Yordania, Israel juga secara tidak sengaja diwarnai dan kemudian tertutupi warna," kata Weier, seperti dikuti dari Time of Israel.

Sebelumnya, Kepala MAD, Christof Gramm, meminta maaf atas kehilapan tersebut. Penyelidikan menyimpulkan bahwa kesalahan itu disebabkan oleh kurangnya ketelitian dan kontrol kualitas dan bukan tindakan yang disengaja atau bermotif politik.

"Saya sangat menyesalkan kejadian ini dan secara tegas meminta maaf," kata Christof Gramm, seraya mencatat bahwa tugas agensi tersebut termasuk memerangi anti-Semitisme dan ekstremisme di dalam militer.

"Saya secara intensif bertukar pandangan tentang kesalahan ini dalam percakapan pribadi dengan karyawan yang bertanggung jawab," kata Dr Christof Gramm

Peniadaan Israel dari peta yang mencakup kawasan Timur Tengah itu awal mulanya diungkap oleh pengguna Twitter, Klemens Köhler, yang menulis dlam tweet-nya: "Dalam laporan publik pertama MAD, tidak ada Israel di dalam peta."

Sontak hal itu mengejutkan banyak pihak. Kementerian Pertahanan Jerman langsung menanggapi di Twitter bahwa kesalahan itu adalah produk dari masalah perangkat lunak.

Kementerian Pertahanan Jerman juga berterima kasih atas koreksi pengguna Twitter dan sedang menyelidiki kesalahan tersebut.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya