Berita

Ekonom senior DR. Rizal Ramli dan Menkeu Sri Mulyani/Net

Politik

Sri Mulyani Batalkan Pandemic Bonds, Rizal Ramli: You Have Come To A Right Sense

JUMAT, 08 MEI 2020 | 12:21 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kritik ekonom senior DR. Rizal Ramli pada pemerintah terbukti objektif. Pasalnya, tidak melulu kritik yang dilancarkan oleh Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu, tapi juga mengapresiasi jika kebijakan yang diambil pemerintah sudah dirasa tepat.

Seperti langkah Menteri Keuangan Sri Mulyani yang telah membatalkan penerbitan surat berharga negara (SBN) dalam rangka menangani pandemik Covid-19 melalui seri khusus pandemic bonds. Baca: Menkeu Batal Terbitkan Surat Utang Pandemic Bonds

Rizal Ramli langsung memberi acungan dua jempol tangannya pada Menkeu Sri Mulyani.


“Menkeu Sri Mulyani, saya senang akhirnya Anda membatalkan dikeluarkannya pandemic atau recovery bonds,” pujinya lewat akun Twitter pribadi sesaat lalu, Jumat (8/5).

Sembari membubuhkan dua emotikon acungan jempol, mantan Menko Kemaritiman itu menyebut langkah Sri Mulyani sudah tepat.

Menurutnya, upaya mencetak uang di negara yang masih banyak perilaku pejabat pemerintah yang korup adalah pilihan kebijakan yang buruk.

“You have come to a right sense (Anda sudah masuk ke pemikiran yang benar),” tegasnya.

Adapun langkah pembatalan surat pandemic bonds ini dilakukan setelah Rizal Ramli berulang kali melakukan kritik pada pemerintah. Baca: Surat Utang Pandemic Bonds Akhirnya Batal Terbit Usai Dikritik Rizal Ramli

RR, sapaan akrabnya, tegas menolak rencana pencarian sumber dana stimulus dampak Covid-19 yang dianggarkan mencapai Rp 405, 1 triliun tersebut dari penerbitan recovery bond atau surat utang yang diterbitkan pemerintah.

Penerbitan recovery bond, menurut Rizal Ramli, hanya bungkus dari kebijakan menambah utang atau mencetak uang.

Hal ini diindikasikan dengan langkah Presiden Jokowi, meneken Perppu pelebaran defisit APBN lebih dari 3 persen. Jika tidak ada transparansi, Rizal Ramli memprediksi pandemic bond ini akan lebih berbahaya dari kasus BLBI.

"Tanpa governance dan transparansi yang benar, recovery bond kemungkinan hanya akan jadi skandal keuangan berikutnya," tegasnya  pada Selasa (31/3) lalu.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

UPDATE

Polri Evaluasi Penggunaan Senpi Buntut Kasus Iptu N di Makassar

Jumat, 06 Maret 2026 | 01:58

Luhut Usul Pembentukan Satgas Khusus Imbas Konflik Israel-Iran

Jumat, 06 Maret 2026 | 01:39

Selebgram Klaim Dijadikan Tersangka dan Ngadu ke Kapolri

Jumat, 06 Maret 2026 | 01:10

Perang Timur Tengah Siap-siap Bikin APBN Babak Belur

Jumat, 06 Maret 2026 | 00:55

Warga Temukan Bayi Mungil Ditemani Sepucuk Surat di Gerobak Nasi Uduk

Jumat, 06 Maret 2026 | 00:31

Iran Pertegas Kembali Fatwa Haramkan Senjata Nuklir

Jumat, 06 Maret 2026 | 00:08

Berikut Jadwal One Way hingga Contra Flow di Tol Trans Jawa saat Mudik

Kamis, 05 Maret 2026 | 23:45

Luhut: Spirit Rakyat Iran Tidak Pernah Goyang

Kamis, 05 Maret 2026 | 23:21

Rapimnas IKA-PMII, Bedah Dampak Gejolak Timteng Terhadap Ekonomi RI

Kamis, 05 Maret 2026 | 23:05

50 Lansia Dhuafa di Depok Terima Santunan Ramadan

Kamis, 05 Maret 2026 | 22:58

Selengkapnya