Berita

Didi Kempot/Net

X-Files

Didi Kempot Adalah Kita

KAMIS, 07 MEI 2020 | 01:22 WIB | OLEH: AL MAKIN

ARISTOTELES (384-322 SM) sang filosof Yunani kuno dalam karya catatannya Poetik menyebut istilah katarsis. Istilah itu sudah diadopsi dalam bahasa Inggris menjadi catharsis, dan sudah masuk dalam kamus bahasa Indonesia.

Katarsis terkait dengan kata lain seperti pembersihan, penyucian, dan pelepasan emosi. Katarsis dalam Poetik-nya Aristoteles sebetulnya menggambarkan kisah sedih, atau tragedi.

Di Yunani kuno, drama sedih sering menjadi hiburan masyarakat. Pertanyaan kuno dan hingga kini yang sering muncul adalah, kenapa manusia yang selalu mencari kebahagiaan dan kesenangan menikmati drama yang berakhir duka?


Dua hal yang berlawanan, mencari kenyamanan hati tetapi dengan mengkonsumsi kisah pilu.

Kisah haru biru terkenal era Yunani kuno adalah kisah Oepidus. Tokoh mitos kuno ini konon membunuh bapaknya sendiri. Setelah itu ia menikahi ibu kandungya. Tragis memang, sekaligus merusak adat istiadat.

Dua tindakan itu melanggar aturan atau tabu dalam masyarakat manapun. Tetapi kenapa para pemirsa menyukai kisah itu?

Dionisius Didi “Kempot” Prasetyo (1966-2020) menyanyikan ironi kehidupan selama lebih dari tiga dekade bagi masyarakat Indonesia. Lagu-lagu sang maestro selalu melantunkan hal-hal yang sedih dalam hampir tujuh ratus karyanya.

Pilu sayatan hati dalam setiap lagu-lagunya banyak disukai tidak hanya ibu-ibu dan bapak-bapak yang masih terikat dengan ikatan primordial budaya Jawa, tetapi juga generasi mileneal yang serba ke-ingris-ingrisan itu. Para mahasiswa menghadiri panggung Didi Kempot berjoget sekaligus meresapi lagu patah hati dengan berlinangan air mata.

Sang Lord atau Godfather of broken hearts berjalan mondar mandir di panggung dengan memegang mikrofonnya. Dia bernyanyi lantang nan riang gembira, walaupun isi lagu tentang duka dan kecewa karena dikhianati kekasih: kisah terminal Tirtonadi Solo, lantunan sedih Gunung Purbo Yogyakarta, gagal cinta di pantai Klayar Pacitan, dan lain-lain.

Baik Didi Kempot atau para penggemar merayakan patah hatinya sendiri, mengingat-ingat masa lalu atau bahkan yang sedang terjadi. Kesedihan tidak untuk dipendam dan meledak di kemudian hari. Tetapi kesusahan hati dinyanyikan dan diiringi musik campursari sambil berjoget. Didi Kempot dan para penonton berdendang untuk kekecewaan hati.

Fenomena Didi Kempot mungkin sangat tepat disejajarkan dengan observasi Aristoteles tiga ribu empat ratus tahun yang lalu: katarsis. Duka masyarakat kita perlu kanal-kanal kecil untuk mengalirkannya, agar tidak meledak.

Didi Kempot memberikan layanan untuk itu. Masyarakat membutuhkan pelepasan emosi. Lagu-lagu Didi Kempot selalu setia melayaninya.

Sigmund Freud (1856-1939), pencetus psikoanalisis dari Austria, menggunakan terapi katarsis untuk para pasiennya yang mengalami depresi dan gangguan jiwa. Para pasien itu dipancing untuk melepaskan emosinya dengan bercerita masa lalunya. Sang dokter dan sang pasien bersama-sama terlibat dalam komunikasi intens tentang masa lalu untuk dilepaskan.

Dalam proses ini, sang dokter hendaknya benar-benar mendalami keluhan dan sisi gelap pasien. Pasien diberi ruang untuk mengungkap perasaan, pengalaman pahit, trauma, dan kekecewaan.

Akhirnya dokter dan pasien memahami bahwa depresi berkait erat dengan masa lalu. Masa lalu tidak akan pergi begitu saja, tanpa harus dilepas tuntas.

Didi Kempot berlaku sebagai dokter yang mungkin mengobati dirinya sendiri sebelum menawarkan layanan bagi masyarakat umum. Didi diterpa kesusahan sejak kecil karena kandasnya perkawinan orang tua, pelawak Ranto Gudel asal Solo itu. Didi Kempot diasuh neneknya di Ngawi dan sering mencari kayu bakar.

Karirnya pun juga penuh perjuangan, ngamen di jalanan bertahun-tahun. Barangkali lagu-lagu Didi Kempot tidak hanya menunjukkan perjuangan sang maestro dalam perjalanan musik, tetapi barangkali juga kisah cintanya yang pahit.

Bisa dibayangkan, anak muda yang tidak ganteng, dengan pekerjaan mengamen, berambut panjang, berkulit gelap, mungkin sering dikecewakan para gadis yang dipuja.

Namun, Didi Kempot tidak pongah ketika perjuangannya membuahkan hasil. Dia bernyanyi tentang semua kekecewaan itu dengan bergembira bahkan menghibur para pemirsa. Para penggemar juga membayangkan diri hal yang sama. Mereka bernyanyi tentang hati yang kecewa.

Seperti perjalanan Didi Kempot, lajunya sejarah masyarakat Indonesia juga melalui tragedi yang membutuhkan pelepasan diri. Masyakarat membutuhan terapi katarsis secara Arsitoteles dan Freud.

Tahun 1990-an adalah saat perjuangan Didi Kempot di penghujung, sebelum menikmati kejayaannya. Era itu penting bagi masyarakat kita, karena jatuhnya Orde Baru yang diikuti krisis multi-dimensi melanda seluruh penjuru negeri.

Saat itu alunan Didi Kempot mulai terdengar sayup-sayup tapi pasti. Nada-nada melankolis Didi seperti terapi bagi kita semua.

Tampaknya, krisis politik dan ekonomi level nasional bisa disamakan dengan krisis cinta secara individu. Krisis setelah runtuhnya Orde Baru bisa dilihat sebagai patah hati bersama.

Masyarakat membutuhkan move-on secara cepat, untuk bangkit dan menata diri. Demokrasi langsung dan desentralisasi dibangun pelan-pelan.

Di ruang hiburan, Didi Kempot bernyanyi dengan setianya menemani usaha kita. Lagu-lagu Didi Kempot seiring dengan kebutuhan kita pentingnya terapi katarsis lewat lagu melankolis.

Didi kempot mendapatkan momen lagi di era WFH (work from home) ini karena pandemik corona. Bahkan Didi Kempot menggalang dana untuk meringankan beban masyarakat dilanda musibah.

Ketokohan Didi Kempot hampir seperti sempurna, sebagai penghibur dan psikoalanalis plus bantuan riel secara finansial.

Didi Kempot tidak hanya penghibur tetapi juga tauladan secara moral. Didi Kempot adalah dokternya, kita semua kliennya. Kita membutuhkan pelepasan sisi gelap lewat katarsis.

Karir musik Didi Kempot lebih mulus dibanding dengan Michael Jackson, Freddy Mercury, atau Elvis Presley. Tiga mega bintang itu diterpa penyakit HIV, obat-obatan, dan skandal-skandal lain.

Kehidupan pribadi Didi Kempot ditutup rapat-rapat. Tidak terdengar nada miring tentang kehidupan rumah tangga the Lord of broken heart seperti para selebritis lain.

Didi kempot sudah tutup usia, semoga damai di sana. Lagu-lagumu tetap menjadi terapi kita semua.

Penulis adalah Guru Besar Ilmu Filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya