Berita

Seorang wanita memasuki kantor Satuan Tugas Anti-Kekerasan Bolivia FELCV di La Paz, Bolivia 22 April 2020. Foto diambil 22 April, 2020/Reuters

Dunia

COVID-19

Lockdown Di Amerika Latin, Infeksi Covid-19 Merosot, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Melonjak

SENIN, 27 APRIL 2020 | 23:11 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

RMOL. Penguncian nasional atau lockdown merupakan cara yang diambil oleh banyak negara di dunia untuk memutus mata rantai penularan virus corona atau Covid-19 yang saat ini tengah menjadi pandemi global.

Cara itu juga banyak diadopsi oleh negara-negara di wilayah Amerika Latin yang terpukul dengan pandemi tersebut.

Di satu sisi, lockdown di Amerika Latin memang membantu memperlambat penyebaran virus corona. Namun di sisi lain, masalah baru muncul. Lockdown menyebabkan tingkat kekerasan dan pelecehan dalam rumah tangga di wilayah tersebut melonjak.


Lonjakan kekerasan dalam rumah tangga itu dilaporkan oleh banyak pihak terkait, baik jaksa penuntut, otoritas setempat, kelompok yang mendukung korban kekerasan, gerakan perempuan dan bahkan UN Women. Lonjakan kekerasan terjadi di banyak negara di wilayah itu, mulai dari Argentina, Meksiko, Chile, Brasil, Kolombia hingga Bolivia.

Hal itu terjadi karena lockdown menyebabkan seluruh anggota keluarga dipaksa untuk berada di dalam rumah dan melakukan segala aktivitas di dalam rumah selama kurun waktu yang cukup lama. Seringkali mereka hanya diizinkan untuk keluar rumah dalam keadaan darurat atau untuk berbelanja kebutuhan pokok.

Sementara itu, di Amerika Latin sendiri, kekerasan terhadap wanita di dalam rumah tangga merupakan masalah yang sudah ada sejak lama. Reuters bahkan menyebut bahwa di wilayah tersebut, hampir 20 juta wanita dan anak perempuan menderita kekerasan seksual dan fisik setiap tahun.

Karena itulah, pandemi corona yang memicu lockdown agaknya memperburuk situasi tersebut.

"Dalam situasi pengurungan (lockdown), yang terjadi adalah bahwa wanita dikurung dengan pelaku (pelecehan/kekerasan) sendiri dalam situasi di mana mereka memiliki gerai yang sangat terbatas," kata direktur regional untuk UN Women, Maria Noel Baeza.

UN Women sendiri adalah entitas PBB untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

"Tahun lalu kami memiliki 3.800 pembunuhan di wilayah itu, berapa banyak yang akan kita dapatkan tahun ini?" tanyanya.

Di beberapa negara, seperti Meksiko dan Brasil, ada peningkatan dalam laporan resmi soal pelecehan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Sementara itu di sejumlah negara lain seperti Chile dan Bolovia, kondisi sebaliknya terjadi, ada penurunan dalam keluhan formal terkait kekerasan dalam rumah tangga.

Namun Jaksa Penuntut dan UN Women menilai, kondisi itu terjadi bukan karena adanya penurunan kekerasan, melainkan karena wanita kurang mampu mencari bantuan atau melaporkan pelecehan melalui saluran normal.

"Lompatan dalam kekerasan tidak mengejutkan kami, itu adalah melepaskan kekerasan yang sudah ada pada orang," kata pendiri program Korban Melawan Kekerasan di Argentina Eva Giberti yang membantu menjalankan hotline atau saluran darurat bagi wanita untuk melaporkan penyalahgunaan.

Saluran darurat 137 Argentina untuk korban pelecehan, didukung oleh Departemen Kehakiman, telah melihat peningkatan 67 persen dalam permintaan bantuan pada bulan April dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu terjadi setelah lockdown dilakukan secara nasional pada 20 Maret.

Sementara itu di Chile, menteri perempuan negara tersebut menyebut bahwa saluran bantuan pelecehan domestik meningkat 70 persen pada akhir pekan pertama karantina. Pemerintah telah memperkuat saluran konseling dan berupaya menjaga tempat perlindungan terbuka bagi perempuan yang berisiko.

Di Santiago, Walikota Distrik Providencia Evelyn Matthei Providencia menjelaskan bahwa permintaan bantuan ke kantor lokal yang menyediakan bantuan hukum, psikologis dan sosial telah melonjak 500 persen di masa lockdown.

Namun, laporan resmi tentang kekerasan dalam rumah tangga di Chile secara formal turun 40 persen pada paruh pertama bulan April, merujuk pada data dari kantor jaksa nasional. Hal ini kemungkinan terjadi karena ruang gerak wanita dibatasi sehingga tidak bisa mengajukan laporan resmi.

"Ini mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa ada kekerasan di dalam rumah tetapi bahwa perempuan tidak bisa keluar, mereka tidak berani keluar," kata Matthei.

Sementara itu, UN Women dalam sebuah laporan yang dirilis pekan lalu menyebutkan, ada bukti meningkatnya kekerasan terhadap wanita di Meksiko, Brasil dan Kolombia. Laporan itu mengutip data dari sebuah observatorium perempuan di Mar del Plata.

Di negara bagian Sao Paulo Brasil, wilayah yang terpukul paling parah oleh pandemi virus corona dan memberlakukan langkah-langkah isolasi, ada lonjakan tajam dalam kasus-kasus kekerasan terhadap wanita pada bulan lalu. Menurut think tank Brasil, Forum Keamanan Publik, setidaknya ada peningkatan 45 persen kasus kekerasan pada bulan lalu, jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.

Di Meksiko, data resmi menunjukkan, keluhan kepada polisi tentang kekerasan dalam rumah tangga meningkat sekitar seperempat pada bulan Maret, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Sejak dikunci, ada peningkatan dalam laporan tentang kekerasan dalam rumah tangga, banyak di antaranya kekerasan psikologis," kata Direktur Institut Kota untuk Perempuan Veracruz, Blanca Aquino. Veracruz sendiri adalah negara bagian Meksiko dengan tingkat pembunuhan wanita tertinggi di negara itu.

Sementara itu Arussi Unda, dari organisasi feminis Meksiko Brujas del Mar, yang menawarkan saran kepada wanita dalam kasus-kasus pelecehan, mengatakan pada awalnya banyak panggilan ke grup itu datang dari tetangga yang mendengar perkelahian di rumah-rumah lain.

"Sekarang kami mendapatkan banyak wanita meminta nasihat tentang bagaimana meninggalkan rumah dan mengambil anak-anak mereka tanpa pasangan kemudian ingin membawa mereka pergi dengan cara hukum," katanya, seperti dimuat Reuters (Senin, 27/4).

Di Kolombia, hotline atau saluran bantuan kebanjiran telepon dari pawa wanita yang mengaku mengalami pelecehan atau kekerasan dalam rumah tangga. Menurut angka resmi yang dirilis pemerintah, jumlah laporan yang masuk naik hampir 130 persen selama 18 hari pertama karantina negara.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya