Berita

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing/Net

Politik

Umpatan Bupati Boltim Telah Melampaui Kewajaran Dan Hiperbola

SENIN, 27 APRIL 2020 | 07:55 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pernyataan Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara, Sehan Salim Landjar yang mengumpat “goblok” untuk ditujukan pada pembantu presiden mendapat kritik.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing menilai teriakan itu selain tidak baik, juga sangat tidak mendidik di ruang publik.

“Selain itu, dia pun menyebut negara sudah mau "bangkrut". Ini tindakan komunikasi politik hiperbola dan berpotensi memanipulasi persepsi publik. Hati-hati dengan pilihan diksi ini,” ujarnya kepada redaksi, Senin (27/4).


Penggunaan dua diksi tersebut, menurut Emrus, sudah melampaui kewajaran komunikasi di ruang publik. Terlepas  apapun yang mendasari pemakaian diksi tersebut.

Diksi goblok dalam narasi dikemukakan oleh Sehan dari aspek komunikasi politik termasuk kategori pesan sangat merendahkan manusia lain. Sekaligus secara tindak langsung dia memposisikan dirinya sebagai superior, benar sendiri dan lebih tinggi dari orang lain.

“Selain tidak tepat, penggunaan diksi goblok dari siapapun kepada siapapun, apapun status sosial para pihak, tidak dibenarkan,” terangnya.

Goblok, sambung Emrus, dari aspek denotatif bisa diartikan sebagai bodoh sekali. Orang yang disebut goblok, sebagaimana dikemukakan Sehan, sama saja memiliki lemah pengetahuan, dangkal pengalaman tentang sesuatu dan dipandang sangat rendah.

“Padahal, setiap manusia punya keunikan dan kelebihan masing-masing, apalagi yang dituju itu menteri. Ingat, setiap manusia sama derajatnya di dalam konstitusi kita,” sambung Emrus.

Pun jika dilihat dari aspek hakekat manusia. Tidak satupun manusia di muka bumi yang goblok. Bahkan yang mengatakan goblok kepada orang lain, tidak tepat juga dia disebut sebagai goblok. Karena itu, penyebutan goblok kepada manusia lain sudah melampaui batas.

Di samping itu, jika seseorang pejabat, bupati misalnya,  apalagi dari partai yang memuliakan manusia sebagai ciptaaan Tuhan Yang Maha Esa, sangat tidak pantas menyebut goblok kepada sesama manusia. Diksi goblok yang dilontarkan Sehan sangat jauh dari aksiologi (moral dan etika) komunikasi.

Oleh karena itu, seorang pemimpin dalam situasi dan kondisi apapun, pesan yang diucapkan di ruang publik harus selalu mengindahkan tata krama dan sekaligus mengandung unsur mendidik.

“Ucapan Sehan sejenis ini, oleh siapapun, utamanya pejabat publik, tidak boleh terulang di ruang publik,” tegas Emrus.

Sementara mengenai penyebutan negara sudah mau bangkut juga berlebihan dan sangat tidak tepat, karena tidak bebasis fakta, data dan bukti serta analisis yang menyertai.

Sehan, kata Emrus telah membesar-besarkan persoalan atau situasi. Sebab, bangkrut bisa diartikan "gulung tikar" alias bubar. Selain bermakna pesimis, diksi ini berpotensi menciptakan opini publik sangat tidak produktif terhadap eksistensi negara kebangsaan kita.

“Karena itu, diksi tersebut selayaknya tidak terucap dari seorang pemimpin dalam keadaan apapun. Kalaupun itu karena "keseleo lidah", tidak ada salahnya secepat mungkin minta maaf,” tekannya.

Populer

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya