Berita

Jakarta/Net

Bisnis

Ketika Negara Lain Sudah Mencari Peluang Di Tengah 'Kacaunya' Pandemik, Kemanakah Indonesia?

KAMIS, 16 APRIL 2020 | 10:38 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pandemik virus corona baru ternyata tidak hanya telah mengguncang pondasi sistem kesehatan masyarakat, namun juga sistem perekonomian dunia. Mengingatkan betapa bergantungnya dunia pada sosok ekonomi raksasa seperti China.

Sejak pertama kali virus mematikan ini diidentifikasi di Kota Wuhan, bukan hanya China yang merasakan "alarm" bahaya tersebut.

Itu semua karena sejak 40 tahun terakhir, China telah menjadi sosok yang sangat penting bagi sistem perekonomian dunia. China telah tumbuh menjadi tokoh dalam penyeimbang ekonomi dunia.


Sejak 1980-an, China memulai peruntungan sektor manufaktur dengan membuka perekonomian. Sebanyak 500 perusahaan asing didirikan. Angka tersebut terus meningkat hingga pada 2010, sepertiga dari produk yang dihasilkan di planet ini berasal dari China. Dan hingga saat ini, China menjadi kekuatan ekonomi kedua di dunia setelah AS.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, berbagai perubahan terjadi dalam industri manufaktur China. Upah tenaga kerja di China sudah tidak semurah dulu. Selain itu, persoalan mengenai hak kekayaan intelektual juga ikut bermunculan.

Hingga munculah Covid-19 di Wuhan. Wabah tersebut membuat China harus menutup sektor manufaktur andalannya. Alhasil, banyak negara yang kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan karena mereka terlalu bergantung pada China.

Bagaimana tidak? China adalah produsen alat kesehatan terbesar di dunia, yang sangat dibutuhkan saat ini oleh semua negara. Penutupan manufaktur China tentu membuat dunia ketar-ketir.

Hal yang sama juga terjadi pada obat-obatan di mana China adalah produsen terbear kedua di dunia untuk obat-obatan dan bahan-bahan farmasi lainnya.

Jika sudah begini, dunia akan sadar betapa bergantungnya selama ini pada China.

Jika sudah begini, dunia akan berpikir untuk memindahkan industri manufakturnya dari China.

Dan siapa yang diuntungkan dalam hal ini (tentu jika pandemik sudah berakhir dan dunia sudah mulai membuka kembali sektor ekonomi)?

Seorang pembuat konten YouTube, Jack Chapple, menjawabnya dalam sebuah video bertajuk "There's A Crisis That Is Quietly Creating New Economic Superpowers".

Diunggah pada Minggu (12/4), video tersebut sudah ditonton oleh lebih dari 2,3 juta orang. Di dalamnya, Chapple menganalisa, ada tiga negara yang akan diuntungkan dalam "peralihan" ekonomi dunia.

Di mana menurutnya, dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, Vietnam, India, dan Meksiko diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi super.

Vietnam

Jika dunia mulai mengalihkan industri manufakturnya dari China, negara pertama di Asia yang akan menggantikan China adalah Vietnam.

Selama ini, Vietnam yang berjuang bangkit dari kemiskinan melakukan perombakan ekonomi besar-besaran. Vietnam telah berubah menjadi negara ramah investasi dengan upah rendah dan izin yang mudah.

Dalam kurun waktu 20 tahun, Vietnam telah meningkatkan produk domestik brutonya dari 390 dolar AS menjadi 3.000 dolar AS. Itu adalah pertumbuhan ekonomi tercepat sepanjang sejarah.

Jika negara-negara lain mulai memindahkan pabriknya dari China ke Vietnam, Chapple mengatakan, dalam beberapa tahun lagi, Vietnam bisa menyamai Uni Emirat Arab, Singapura, Iran, bahkan Hong Kong.

Meksiko

Selain Vietnam, negara yang diuntungkan dari "pandemik corona" adalah Meksiko. Di mana dalam dua tahun terakhir atau dalam masa perang dagang, sebanyak 2 per 3 dari manufaktur AS pindah dari China ke Meksiko.

Pada 2017, ekspor Meksiko mulai meningkat 14 persen menjadi 320 miliar dolar AS. Angka tersebut adalah 42 persen dari ekspor China ke AS.

India

Seperti perkiraan banyak pihak, India, sebelum terjadi pandemik pun, diproyeksikan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia. Dengan populasi yang menyamai China, India menjadi terdepan dalam hal jasa. Terlebih, India memiliki angka penduduk produktif yang sangat tinggi.

Sejak 2002, pertumbuhan ekonomi India meningkat dari 470 dolar AS menjadi 2.100 dolar AS pada 2020. Jika pada 2014, India memproduksi 10 juta ponsel per tahun, pada 2019, India sudah memproduksi 150 juta ponsel per tahun. Menjadikan India sebagai negara manufaktur ponsel terbesar kedua di dunia.

Apabila India bisa memperbaiki infrastruktur dan mengembangkan manufaktur seperti yang China lakukan pada 1980 hingga 1990-an, India dimungkinkan menjadi kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia, setelah AS dan China.

Kemanakah Indonesia?

Hal yang patut dipertanyakan adalah: Kemanakah Indonesia?

Indonesia dengan populasi 270 juta jiwa yang diproyeksikan memiliki generasi emas 2045 tidak masuk menjadi salah satu negara yang akan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Padahal, enam tahun sudah Presiden Joko Widodo menggembar-gemborkan investasi asing.

Bukankah sudah waktunya Indonesia untuk mengevaluasi kebijakan dan strateginya? Tidak melulu pada cara yang sama, tanpa perubahan.

Ketika negara lain sudah melihat peluang dari pandemik, bukankah sudah waktunya bagi Indonesia melakukan hal yang sama? Tidak melulu fokus pada hari ini, namun juga esok dan lusa.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya