Orang mengenakan masker untuk meminimalisir infeksi virus corona baru/Net
Aturan social distancing atau jarak sosial untuk menghentikan mata rantai penyebaran virus corona mungkin harus terus dilakukan setidaknya hingga dua tahun mendatang.
Para ilmuan mengatakan, langkah itu sangat diperlukan mengingat adanya kekhawatiran akan kebangkitan Covid-19 di tahun-tahun mendatang.
Seruan para ilmuan tersebut tertulis dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Science yang dikutip The Guardian pada Rabu (15/4).
Di tulisan tersebut, para ilmuan menyimpulkan, penguncian satu kali tidak akan cukup untuk mengendalikan pandemik dan puncaknya bisa lebih besar dari yang saat ini terjadi.
Dalam sebuah skenario, Covid-19 bisa bangkit pada 2025, jika belum ada vaksin atau pengobatan yang efektif.
Dikatakan oleh seorang profesor epidemiologi di Harvard, Marc Lipstich sebagai salah satu tim peneliti, pandemik tidak akan berakhir jika masih ada orang yang terinfeksi dan orang yang rentan.
“Infeksi menyebar ketika ada dua hal: orang yang terinfeksi dan orang yang rentan. Kecuali jika ada kekebalan kelompok yang jauh lebih besar daripada yang kita ketahui, (namun) mayoritas populasi masih rentan," ujarnya.
"Memprediksi akhir pandemi di musim panas (2020) tidak konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang penyebaran infeksi," imbuhnya.
Dengan masih tingginya potensi infeksi, maka langkah seperti jarak sosial harus terus diterapkan untuk waktu yang lebih lama. Itu juga untuk membantu menjaga kemampuan rumah sakit dalam menangani wabah.
Sementara itu, dalam makalah yang dirilils oleh kelompok penasihat ilmiah pemerintah untuk keadaan darurat, Sage, pada Maret lalu, mengungkapkan, Inggris hanya bisa bergantian menerapkan pelonggaran jarak sosial yang ketat selama satu tahun.
Dan jika belum ada perawatan baru yang efektif, atau belum munculnya vaksin dan kapasitas perawatan kritis yang mempuni, jurnal Science mengatakan, jarak sosial harus terus diperkatat.
"Tetapi dengan tidak adanya ini, pengawasan dan jarak intermiten mungkin perlu dipertahankan hingga 2022," bunyi kesimpulan jurnal tersebut.
Namun, jika ditemukan kekebalan permanen akan Covid-19, langkah tersebut bisa dicabut. Sedangkan, jika kekebalan hanya bertahan satu tahun seperti penyakit lainnya akibat virus corona, maka kemungkinan Covid-19 akan menjadi siklus wabah tahunan.
"Dugaan yang masuk akal adalah bahwa mungkin ada perlindungan parsial untuk hampir satu tahun. Pada akhirnya, mungkin perlu beberapa tahun perlindungan yang baik. Ini benar-benar spekulatif pada titik ini," tambah peneliti.