Berita

Wuhan/Net

Dahlan Iskan

Wuhan Gembira

JUMAT, 10 APRIL 2020 | 04:58 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

APA yang berubah setelah lockdown dicabut di semua wilayah di Tiongkok --terakhir di Wuhan, kemarin yang terpenting adalah QR. Ada QR di mana-mana. Di mal, di stasiun, di kereta bawah tanah dan di bandara.

Maka, sebelum berangkat bepergian, Anda harus yakin bahwa Anda sehat. Demikian juga sebelum ke mal.

Tentu Anda tidak tahu persis lagi sehat atau tidak. Tapi di ponsel Anda kini kan ada status kesehatan Anda: hijau, kuning atau merah.


Kalau layar di ponsel Anda hijau tidak usah was-was. Berangkat saja. Ke mal atau ke luar kota. Anda tidak akan dicekal di depan mal atau di stasiun kereta atau di bandara.

Memang di pintu masuk mal Anda harus mengeluarkan ponsel. Dan Anda akan diminta meng-klik QR yang ada di situ. Untuk dilihat status kesehatan Anda: hijau, kuning, atau merah.

Demikian pula di stasiun kereta. Sebelum memasukkan kartu/coin untuk membuka pintu boarding, Anda harus 'menembakkan' ponsel ke QR yang ada di situ.

QR itu terhubung dengan sentral big data. Di sana Anda tercatat sebagai pengunjung mal dengan status hijau. Atau sebagai penumpang dengan status sehat. Lalu diizinkan melewati pintu untuk masuk mal atau menuju kereta.

"Saya ke Hangzhou dua hari lalu. Prosedur barunya hanya itu," ujar teman saya di Beijing. "Prosesnya hanya beberapa detik," tambahnya.

"Pemandangan apa lagi yang berbeda," tanya saya.

"Semua orang pakai masker. Selama di ruang tunggu dan di dalam kereta," katanya.

Tapi kalau status kesehatan di layar ponsel Anda kuning --apalagi merah-- baiknya Anda jangan meninggalkan rumah. Toh akan ditolak masuk ke mana-mana.

Bagi yang naik mobil pribadi lebih lancar lagi. Semua jalan tol digratiskan. Sampai ada pengumuman lebih lanjut.

Tujuannya: untuk menggerakkan ekonomi kembali.

Dua hari terakhir keadaan seperti sudah pulih kembali. Mereka sudah percaya diri dengan sistem kontrol kesehatan lewat aplikasi itu.

Kota Wuhan pun sudah kembali macet. Pabrik-pabrik sudah bekerja kembali --setidaknya sudah 80 persen.

Bahkan pabrik-pabrik mobil sudah diizinkan bekerja sejak 26 Maret lalu --dua minggu sebelum lockdown dicabut.

Wuhan memang dikenal sebagai 'Detroit'- nya Tiongkok.

Pabrik-pabrik mobil yang berpusat di Detroit, Amerika Serikat, memiliki pabrik mobil di Wuhan. Misalnya Ford dan General Motors.

Demikian juga pabrik-pabrik mobil dari Prancis: punya pabrik di Wuhan. Misalnya Renault.

Karena itu begitu banyak pula pabrik suku cadang mobil di Wuhan. Sebagian pasokan di seluruh dunia datang dari Wuhan.

"Hubungan Detroit dengan Wuhan sangat kental," ujar teman saya yang tinggal di Detroit, Michigan, Amerika Serikat.

Wuhan-Michigan (via New York) adalah jalur pertukaran manusia yang sangat besar. Belakangan ditambah: Detroit-Wuhan-Torino (Italia Utara). Yakni setelah pabrik mobil Italia, Fiat, mengakuisisi Chysler --menjadi FCA (Fiat Chrysler Automobiles). Yang juga punya pabrik mobil di Wuhan.

Teman saya itu menilai besarnya penderita Covid-19 di Detroit (nomor 3 setelah New York dan tetangganya, New Jersey) ada kaitan dengan itu. Demikian juga besarnya penderita Covid-19 di Italia utara.

"Automotive industry connection telah menjadi Covid connection," katanya.

Tentu, itu hanya salah satu kemungkinan.

Yang jelas 'pasien zero' di Amerika diketahui ada di negara bagian Washington. Bukan di Detroit. Yakni warga sebuah kota kecil 50 Km di utara Seattle.

Itu ditemukan tanggal 20 Januari 2020. Yakni ketika 'pasien zero' tersebut masuk rumah sakit sehari sebelumnya. Dan ia mengaku baru datang dari Wuhan. Untuk menjenguk keluarga.

'Pasien kedua' ditemukan di Chicago. Tanggal 22 Januari 2020. Tidak ada hubungannya dengan 'pasien zero'.

Yang di Chicago itu juga mengaku baru datang dari Wuhan. Untuk sebuah acara keluarga. Yang di Chicago itu lantas menulari pasien berikutnya: istrinya sendiri.

Jadi Amerika sebenarnya sudah mulai terjangkiti sedini itu. Tapi selalu saja dianggap sepele. Akhirnya telat. Tergopoh-gopoh. Menjadi yang terparah di seluruh dunia.

Covid-19 ini dari Wuhan menyebar menghebohkan seluruh dunia. Termasuk membuat tiga pendeta terkemuka Indonesia saling 'perang YouTube' di dunia maya.

Wuhan sendiri --yang tiga bulan terakhir sangat menderita akibat lockdown-- kini sudah riang gembira. Tinggal kita yang masih merana. Terutama yang belum move on bersama.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya