Berita

Pemeriksaan pasien Covid-19/Net

Dunia

Temuan Baru, Peneliti China Temukan Subtipe Baru Virus Corona Yang Bisa Bertahan 49 Hari

JUMAT, 03 APRIL 2020 | 08:25 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Para peneliti dari China menemukan virus corona baru bisa bermutasi selama 49 hari dalam tubuh pasien yang sudah terinfeksi.

Satu kasus dari seorang pria paruh baya yang positif Covid-19 menunjukkan, ada kemampuan infeksi berkepanjangan dari virus tersebut.

Dari hasil penelitian, pria tersebut memiliki "toksisitas rendah" yang artinya gejala yang tidak dimiliki tidak parah namun infeksinya lama. Itu juga berarti ia bisa menularkan virus tersebut pada orang lain lebih lama pula.


Penelitian tersebut dilakukan oleh para peneliti di Universitas Kedokteran Angkatan Darat di Chongqing, Rumah Sakit PLA No 967 di Dalian, dan Rumah Sakit Umum Komando Pusat PLA di Wuhan.

Mereka juga telah menerbitkan temuan ini di situs makalah medis ilmiah, MedRxiv pada 27 Maret.

Dalam penelitian itu disebutkan, virus dan inangnya telah membentuk "keseimbangan dinamis". Sehingga, virus sulit untuk dilepaskan dari inangnya dan pria tersebut perlu mendapatkan suntikan darah dari pasien yang telah sembuh agar bisa pulih.

Dimuat Dailymail, pria China yang tidak disebutkan namanya itu mengunjungi sebuah rumah sakit di Wuhan untuk menjalani tes SARS-CoV-2 atau nama lain dari virus corona baru pada 8 Februari 2020.

Pria tersebut mengungkapkan, ia mengalami demam selama sekitar satu pekan, namun tidak memiliki gejala infeksi lainnya seperti batuk.

Ketika diuji, tes Covid-19 yang dikumpulkan dari alat pengambil sampel tenggorokan menunjukkan hasil yang positif pada hari ke-17, 22, 26, 30, 34, 39, 43, dan 49.

Hasilnya pernah negatif pada hari ke-47, yang kemungkinan dianggap sebuah kebetulan.

Ini menunjukkan, "viral shedding" atau pelepasan virus terjadi selama 49 hari. Di mana viral shedding berarti seseorang yang terinfeksi mengeksresikan penyakit (keturunan virus) dalam napas mereka atau melalui tetesan bersin dan batuk.

Penelitian sebelumnya menunjukkan, pelepasan virus berlangsung selama rata-rata 20 hari. Kasus terpanjang yang ditemukan dilaporkan selama 37 hari.

Berdasarkan hipotesa dari Dr Li Tan dan rekannya, semakin lama pelepasan virus, maka kondisi inangnya bisa semakin parah.

“Menariknya, bertentangan dengan kesimpulan di atas, kami di sini melaporkan salah satu kasus yang tidak parah memiliki durasi paling lama pelepasan virus,” lanjutnya.

Kendat begitu, karena pasien tersebut tidak dapat melawan penyakit itu sendiri, maka ia mendapatkan perawatan plasma darah yang telah digunakan di China dan secara eksperimental di Amerika Serikat dan Inggris.

Pasien tersebut diberikan tranfusi plasma darah dari penderita Covid-19 yang telah pulih dan memiliki antibodi penangkal virus dalam darah mereka.

Pasien yang pada awalnya memiliki beberapa lesi yang terinfeksi ke paru-parunya yang menghilang tak lama setelah ia dibawa ke rumah sakit.

Para peneliti mengatakan kasus itu mungkin merupakan "kasus terinfeksi kronis".

Sebelumnya, para peneliti China telah menemukan adanya kemungkinan dua jenis utama SARS-CoV-2, yaitu subtipe L dan subtipe S.

Subtipe L terdapat di sekitar 70 persen pasien dan lebih cenderung menyebar daripada subtipe S.

"Kami tidak dapat memastikan bahwa virus yang terkait dengan Kasus 1 adalah tipe S, tipe L yang bermutasi, atau subtipe baru," ujar Dr Tan dan rekannya.

"Kami tidak dapat mengecualikan subtipe baru asli yang tidak diidentifikasi," ombuhnya.

Mereka pada akhirnya memperingatkan akan adanya pasien "kronis" lain yang mungkin memiliki gejala ringan seperti pasien di China tersebut.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya