Berita

Buruh/Net

Publika

Rontoknya Saham Sektor Ritel, Gelombang PHK, Dan Frustasi Massal

SENIN, 23 MARET 2020 | 16:08 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

SEIRING dengan bertambahnya pasien positif Covid-19, rupiah turun ke level Rp 16.550, harga emas global merosot ke level 1.491 dolar AS/troy ons dan sektor pasar modal juga terpukul berat pada Senin (23/3).

IHSG bergerak turun ke level 4034 pada sesi senin pagi. Ada peristiwa yang menarik terjadi pada Senin ini, di antaranya adalah penurunan saham signifikan di industri retail dan industri unggulan.

Hari ini seluruh indeks sektoral turun, dan sektor industri retail yang berkaitan dengan konsumer turun paling drastis.


Harga saham Unilever Indonesia, Indofood CBP, Indofood Sukses Makmur, HM Sampoerna dan Gudang Garam adalah sektor konsumen yang paling dibutuhkan masyakarat.

Kelima industri tersebut mengalami penurunan paling tajam, yaitu Unilever turun 6,83 persen, Indofood CBP turun 6,68 persen, Indofood sukses makmur turun 6,96 persen, HM Sampoerna turun 6,69 persen.

Sektor retail merupakan sektor yang paling dibutuhkan masyarakat terutama ketika pemerintah menggiatkan social distancing dan mendorong pekerja kerja dari rumah (work from home). Kebutuhan makanan minuman kemasan diperoleh dari sektor ritel, begitu juga kebutuhan pokok bayi (susu) dan toileters untuk kebersihan diri juga mengandalkan sektor tersebut.

Konsekuensi dari turunnya harga saham sektor ritel tersebut adalah ketersediaan modal tambahan untuk mendorong produksi massal menjadi berkurang.

Kemampuan unilever dan indofood untuk terus mensuplai produksi ke masyarakat dapat menurun dan itu akan menimbulkan frustasi di masyarakat bila terjadi shortfall suplai.

Bahkan ketika masyarakat diberikan cash check sebagai bagian stimulus ekonomi namun tidak tersedia kebutuhan retail konsumen seperti makanan minuman kemasan dan kebutuhan kebersihan maka publik akan terkejut dan frustasi.

Industri blue chip seperti Astra Internasional (ASII) juga turun 6.88 persen menjadi Rp 3520 per saham, Astra Otoparts (AUTO) turun 5 persen menjadi Rp 665 per saham. Penurunan industri unggulan Indonesia seperti Astra Internasional patut dicermati, bukan sebagai balance sheet industri an sich tetapi sebagai simbol kepercayaan pasar terhadap Indonesia dalam menangani penyebaran covid19.

Bila melihat timeline, Presiden Jokowi melalui keterangan Kepala BNPB Doni Monardo memastikan Indonesia tidak akan memberlakukan lockdown pada unggahan video Sabtu (21/3), saat itu bursa tutup. Kemudian baru Senin pagi ini (23/3) saat bursa efek buka langsung terlihat bagaimana investor melepas asetnya di pasar saham dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Keruntuhan saham dan rupiah tersebut dapat diartikan respon pasar yang tidak menyukai pilihan terbatas dari RI yang mengatakan tidak akan lackdown apapun situasinya.

Sektor Ritel dan PHK

Meskipun penurunan saham Unilever Indonesia, Indofood CBP, Indofood Sukses Makmur, HM Sampoerna dan Gudang Garam baru sekitar di 5-7 persen dalam satu hari, namun saham seperti PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) sudah terkoreksi lebih dari 25 persen sejak awal tahun 2020.

Penurunan saham-saham sektor ritel tersebut tidak boleh dianggap enteng dan wajar oleh otoritas Indonesia karena perdagangan ritel melibatkan banyak konsumer, jaringan toko dan tenaga kerja.

Keterbatasan modal tambahan melalui saham di sektor tersebut dapat diikuti dengan pengurangan tenaga kerja (PHK) massal terhadap karyawan dan  hilangnya aktivitas ekonomi dari jaringan toko di dalamnya.

Jangan anggap pelemahan saham sektor ritel ini sebagai mekanisme supply-demand biasa. Ini terkait dengan kepercayaan pasar terhadap pemerintahan, ketersedian bahan pokok dan efek domino dari PHK di ujungnya.

Penyelematan jiwa manusia dan sektor perdagangan ritel di tengah merebaknya Covid-19 adalah hal prioritas bagi pemerintah saat ini. Ayo jangan lama-lama. Semakin lama pemerintah bertindakan akan terjadi frustasi massal akhirnya. Semoga tidak.

Penulis adalah pengamat kebijakan publik

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya