Berita

Ilustrasi

Publika

Indonesia Butuh Stimulus Ekonomi Imbas Corona, DPR dan Pemerintah Jangan Lamban

SABTU, 21 MARET 2020 | 12:47 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

CV19 telah merebak di berbagai propinsi dan telah menyebabkan kematian di luar ibukota.

Pasar keuangan global juga terguncang. Dalam satu bulan pasar saham amerika, pasar inggris, pasar kanada, pasar brasil, pasar rusia, pasar australia secara bersamaan telah turun diatas 25%.

Periode 20 Februari sampai 20 Maret 2020, pasar saham AS turun -26%; pasar saham UK turun -26%; pasar saham CA turun -25%; pasar saham BRA turun -27%; pasar saham RUS turun -20%, pasar saham AUS turun -24%.


Bursa Efek Indonesia dalam periode yang sama turun terburuk di dunia sebesar -30% dibandingkan bulan lalu (4,194 per 20/03). Bahkan rupiah sudah di level 16,354 dengan catatan bahwa biaya yang telah dikeluarkan BI untuk rebuy back SBN sebesar Rp195 triliun (ytd).

Pertumbuhan ekonomi Indoneasia diprediksi turun 1.2-1.5% menjadi 4.2-4.6% jatuh dibawah 5% tahun 2020, bahkan Sri Mulyani menginggatkan dengan skenario terburuk bisa tumbuh 0%.

Jumlah death toll rate, Indonesia yang tertinggi prosentasenya (8,67%), Italia (8.57%), Iran (7.29%), China (4%), USA (1.32%) dan Malaysia (0.29%).

Kombinasi turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi, penurunan tajam rupiah, penurunan tajam IHSG, dan tingginya death toll rate, Indonesia tidak bisa seperti saat ini yaitu keraguan memberikan stimulus yang besar dan signifikan.

Stimulus yang dapat membantu rakyat atasi dampak social distanting diantaranya adalah pemberian BLT (Cash) untuk semua rumah tangga yang cukup besar seperti pola Jepang (Rp1.7 juta per rumah tangga) atau pola AS (Rp15 juta/dewasa), Menerbitkan aturan penangguhan pembayaran kredit masyakarat; Penurunan PPN; Subsidi UMKM untuk bayar karyawan dan alihkan dana-dana tunjungan dinas PNS untuk bangun RS darurat.

Stimulus akan memperbesar defisit menjadi 4-5% maka perlu kerjasama dengan DPR untuk merelaksasi aturan defisit max 3%.

Indonesia harus bersatu dan bukti bersatunya tersebut dengan diikuti aturan social distanting oleh warga masyarakat secara disiplin disamping kekompakan pemerintah pusat, daerah dan politisi  DPR menerbitkan stimulus ekonomi yang signifikan.

Bila tidak, jangan kaget bila Indonesia adalah menjadi negara gagal dalam mengatasi CV19 dalam ekonomi dengan disertai angka kematian yang tinggi di dunia.

Penulis adalah pengamat kebijakan publik

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya