Berita

Tim Medis Sedang Merawat Pasien/Net

Kesehatan

Jubir Corona Jelaskan Demi Bisnis Ada Rumah Sakit Yang Tolak PDP Corona, Deddy Corbuzier Sampai Kaget

SELASA, 17 MARET 2020 | 15:21 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Banyak sekali rumah sakit yang menolak pasien corona. Hal itu diutarakan oleh Juru Bicara Pemerintah Kasus Virus Corona (Covid 19), Achmad Yurianto.

Pernyataan tersebut untuk menjawab video yang saat ini tengah viral. Video itu diunggah dan ramai di media sosial tentang pasien virus corona yang ditelantarkan oleh sebuah rumah sakit swasta.

Sebelumnya, seorang wanita menggunakan masker menceritakan pengalaman pahitnya atas pelayanan sebuah rumah sakit. Dia baru saja diperiksa dan ternyata sudah masuk kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP).


Namun, oleh rumah sakit itu, ia diminta untuk ke rumah sakit yang lebih besar.

"Ini, aku udah kategorinya PDP (pasien dalam pengawasan), dan rumah sakit, itu enggak tahu mau ngapain, harus gimana, dan kita bisa dilepas begitu aja, disarankan untuk langsung ke 4 rumah sakit besar, tanpa pengawasan.

Artinya, artinya ya, kalau aku males lanjut ke rumah sakit besar yang ditunjuk itu, aku cuma balik ke rumah, terus aku berhubungan dengan tetangga kanan kiri, dan i'm fine, aku merasa fine tapi ternyata aku positif (corona), itu enggak kebayang dampaknya kaya apa," 
ujar wanita tersebut.

Dalam obrolan bersama Deddy Corbuzier yang diunggah di akun Instagram @mastercorbuzier serta Youtube channel Deddy Corbuzier, Achmad Yurianto memberikan tanggapan atas video yang viral tersebut.

"Ini sebenarnya pasien yang berobat ke rumah sakit. Dia datang ke sana kemudian dia adalah pasien yang diyakini 'Ini kayaknya terinfeksi nih' artinya dia menjadi pasien dalam pengawasan," kata Yurianto, Selasa (17/3).

Mestinya rumah sakit melakukan mekanisme sesuai dengan standarnya. Jika memang tidak tersedia fasilitas untuk pasien terduga corona, mestinya rumah sakit tersebut memberikan rujukan.

"Rumah sakit (mestinya) mengatakan bahwa, 'Kami tidak punya fasilitas untuk merawat, oleh karena itu silahkan Anda menuju ke rumah sakit lain yang bisa merawat, kita kasih pengantar, silahkan dengan pengantar ini Anda menuju ke rumah sakit lain' itu mekanismenya seperti itu," tegas Yurianto.

Kemudian, mestinya pihak rumah sakit memisahkan PDP dengan pasien lainnya bukan dibiarkan begitu saja.

"Seandainya dia positif dengan klinis seperti itu, sebenarnya dia tidak membutuhkan fasilitas yang khusus,  yang penting hanya dipisahkan saja dari pasien yang lain," kata Achmad Yurianto.

Dipisahkan untuk kemudian diberikan rujukan ke rumah sakit lain, bukan ditelantarkan.

Yurianto tidak menutupi bahwa hal tersebut dapat terjadi karena hampir semua rumah sakit menolak menerima pasien corona untuk tetap mempertahankan citranya.

"Kita menyadari betul bahwa beberapa rumah sakit, dia menjaga citranya dengan 'Jangan sampai ketahuan orang bahwa saya merawat COVID-19'. Kalau ketahuan nanti semua pasien yang lain tidak mau datang, ini adalah bisnis, itu yang terjadi," kata Yurianto.

Deddy Corbuzier, sang pembawa acara, terkejut. Menurutnya hal ini sangat di luar perkiraannya jika ada rumah sakit yang tidak menjalankan perannya.

Yurianto menjawab, sejak awal pihaknya menyadari ini merupakan pekerjaan rumah tambahan yang harus ditanganinya.

"Banyak sekali rumah sakit yang menolak kasus ini. Itulah kenapa kami dari awal keras untuk tidak pernah mau menyebut nama rumah sakit. Kami tidak pernah mau merilis nama rumah sakit kecuali Sulianti Saroso dan Persahabatan, ya takdirnya sebagai rumah sakit rujukan," kata Yurianto.

Rumah sakit yang diceritakan dalam video tersebut sudah melanggar hukum karena menolak pasien tanpa prosedur yang kurang baik.

"Melanggar (hukum), boleh dia menolak pasien dengan alasan yang jelas, boleh dia merujuk pasien dengan alasan yang jelas, bukan berarti kayak pasar 'silahkan Anda cari sendiri, kami tidak mau terima'," jelas Yurianto.

Yurianto pun akan berbicara dengan asosiasi rumah sakit.

Melihat Deddy Corbuzier yang masih termangu dengan rasa terkejutnya, Yurianto pun menarik napas dalam-dalam.

"Kalau begitu, selamat datang di Indonesia," ujarnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya