Berita

Ilustrasi paripurna DPR RI/RMOL

Politik

Pengamat: Parliamentary Threshold 7 Persen Kepentingan Jangka Pendek Parpol Besar

SELASA, 10 MARET 2020 | 16:34 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Usulan kenaikan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold dinilai wajar disuarakan sejumlah partai politik besar. Sisi baiknya, peningkatan ambang batas akan menyederhanakan jumlah partai politik.

"Usulan menaikkan ambang batas parlemen menjadi 7 persen dapat dimaklumi sebagai langkah menuju penyederhanaan partai dan mengurangi potensi fragmentasi dalam parlemen akibat banyak faksi politik," ujar pengamat politik Ade Reza Hariyadi saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (10/3).

Namun demikian, usulan tersebut justru akan menimbulkan masalah baru.  Ia menjelaskan, meningkatnya ambang batas akan menyebabkan disproporsionalitas representasi suara masyarakat di parlemen. Hal ini juga berpotensi akan melanggengkan oligarki politik oleh parpol besar.


"Kadar demokrasi juga akan terkurangi akibat terbatasnya alternatif sarana aspirasi politik bagi masyarakat," sambungnya.

Harus diakui, masyarakat Indonesia memiliki karakteristik beragam, baik secara geografis, sosiologis dan politik. Hal inilah yang menurutnya harus menjadi pertimbangan politik dalam menentukan ambang batas parlemen.

Baginya, kisaran 3-5 % merupakan ambang batas parlemen yang cukup moderat dan akomodatif terhadap potensi keragaman di dalam masyarakat Indonesia.

"Oleh karena itu, besar kemungkinan usulan peningkatan ambang batas parlemen ini diwarnai kepentingan jangka pendek, terutama untuk menguatkan praktik oligarki dan menyimulasikan formasi suara dalam Pilpres yang akan datang," pungkasnya.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya