Berita

Hatta Taliwang (tengah)/Net

Politik

Ribut-ribut Ahok Jadi 'Gubernur' Ibukota Baru Belum Pas Karena UU-nya Belum Ada

SENIN, 09 MARET 2020 | 10:58 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Presiden Joko Widodo kembali melempar wacana soal perkembangan rencana pemindahan Ibukota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur. Wacana itu terkait calon Kepala Otoritas Ibukota Negara (IKN).

Pada Senin lalu (2/3), kepala negara yang kerab disapa Jokowi menyebutkan empat nama tokoh sebagai calon "gubernur" ibukota baru.

Yaitu, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, CEO PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Tumiyono, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.


Namun dari keempat nama itu, nama Ahok disebut-sebut sebagai calon terkuat yang akan dipilih Jokowi sebagai Kepala Badan Otoritas IKN.

Hal ini pun mendapat tanggapan dari aktivis senior Hatta Taliwang. Menurutnya, wacana ini tidak tepat disampaikan Presiden, sementara dasar hukum atau regulasi pemindahan IKN baru ini belum selesai.

"Kami menganggap ini sesuatu yang melanggar konstitusi. Enggak boleh sejauh itu Presiden mengambil kebijakan menyangkut soal ibukota negara ini. Karena belum jelas sikap DPR," kata Hatta Taliwang saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Senin (9/3).

Pemindahan IKN, menurut mantan anggota DPR RI dari Fraksi PAN ini, memiliki pengaruh yang signifikan besar terhadap masa depan negara. Karena itu perlu dikaji secara mendalam dan butuh persetujuan rakyat banyak.

"Yang dahsyat begini pengaruhnya terhadap hari depan bangsa enggak bisa dengan hanya maunya eksekutif. Harus mendengar dulu aspirasi masyarakat  termasuk DPR," ujar Hatta Taliwang.

Oleh karena itu, dia berharap kepada Presiden untuk berlaku bijaksana. Alih-alih tidak mengedepankan hasrat kekuasaan tanpa dasar yang jelas.

"Karena DPR pun belum menyatakan sikap resmi. Masih menunggu kajian dari eksekutif," demikian Hatta Taliwang.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya