Berita

ilustrasi Pencarian MH370/Net

Dunia

Misteri Hilangnya MH370 Kembali Dibuka, Australia Klaim Malaysia Tahu Sejak Awal Itu Adalah Tindakan Bunuh Diri Massal

RABU, 19 FEBRUARI 2020 | 10:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mantan PM Australia Tony Abbott mengklaim pejabat tinggi Malaysia tahu bahwa pesawat MH370 yang hilang pada 2014 lalu, sengaja dijatuhkan oleh sang pilot dalam tindak 'bunuh diri massal'.

Dalam kutipan film dokumenter Sky News, Rabu (19/2), Abbott mengatakan dia diberitahu bahwa Malaysia meyakini sang kapten sengaja menjatuhkan pesawat. Malaysia meyakini hal itu, satu minggu setelah kabar menghilangnya MH370.

"Pemahaman saya, yang sangat jelas dari tingkat paling atas pemerintah Malaysia, sejak awal, di sini, mereka mengira itu adalah tindakan bunuh diri oleh pilot," kata Abbott,  mengutip AFP, Rabu (19/2).


Ia pun menekankan sekali lagi, “Saya tidak akan mengatakan siapa yang mengatakan apa kepada siapa. Tetapi izinkan saya mengulangi, saya ingin benar-benar jelas dipahami, bahwa ini hampir pasti pembunuhan dan bunuh diri oleh pilot. Bunuh diri massal oleh pilot."

Isu tentang pilot yang sengaja menabrakkan atau menjatuhkan pesawat yang diterbangkannya itu sudah lama terdengar. Banyak ahli penerbangan yang dalam penyelidikannya mengungkapkan hal itu.

Keluarga dan teman-teman Zaharie Ahmed Shah, pilot MH370, membantah dengan menyebut tuduhan itu tidak berdasar.

Pesawat Malaysia Airlines yang mengangkut 239 orang menghilang pada 8 Maret 2014 dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing. Kebanyakan penumpang berasal dari China.

Seluruh tim berupaya melakukan pencarian. Bahkan Australia dan Amerika Serikat ikut membantu upaya pencarian. Namun, tidak ada tanda-tanda pesawat ditemukan di zona pencarian Samudera Hindia seluas 120.000 kilometer persegi.

Pencarian yang dipimpin Australia, yang terbesar dalam sejarah penerbangan, ditangguhkan pada Januari 2017. Perusahaan eksplorasi Amerika Serikat (AS) meluncurkan pencarian pribadi pada 2018, namun berakhir setelah beberapa bulan menjelajahi dasar laut tanpa hasil.

Hilangnya pesawat ini sejak lama menjadi subjek dari sejumlah teori -mulai dari yang dapat dipercaya hingga yang tak masuk akal.

Penyelidikan selalu berakhir gagal. Hingga kini. Keluarga para penumpang MH370 marah dan kecewa. Mereka menuntut keadilan namun tidak tahu harus kemana. Anggota keluarga mereka hilang tanpa ada yang tahu apa dan bagaimana bisa terjadi.

Pada 2016, para pejabat Malaysia mengungkapkan telah merencanakan jalur di atas Samudera Hindia dengan sebuah simulator penerbangan, tetapi hal itu tidak membuktikan bahwa sang pilot dengan sengaja menjatuhkan pesawat.

Sebuah laporan akhir tentang tragedi yang dirilis pada 2018 menunjukkan kegagalan kontrol lalu lintas udara dan menyebut arah pesawat diubah secara manual.

Penumpang psawat yang nahas itu di antaranya adalah warga Australia, termasuk empat dari negara bagian Queensland, tempat asal Perdana Menteri Annastacia Palaszczuk. Austalia pada pekan ini menyarankan pihak berwenang melakukan pemeriksaan atas kematian warga mereka.

Sebuah sumber menyebutkan, pilot pesawat Malaysia Airlines MH370 sengaja membuat kabin kehabisan oksigen dengan terbang ke ketinggian 40 ribu kaki. Akibatnya, semua penumpang terbunuh.

Sang pilot saat sedang membawa pesawat disebut mengalami masalah keluarga dan kesepian.

Istrinya pergi dari rumah setelah mengetahui dia berselingkuh dengan pramugari.Dalam keadaan stres, Zaharie kemudian menabrakkan pesawat ke Samudera Hindia, menewaskan semua 238 penumpang. Sebelumnya, Zaharie terbang ke ketinggian 40.000 kaki, sehingga para penumpang sesak napas. Demikian menurut kelompok independen yang telah menangani kasus ini.

Kelompok ini terdiri dari para ahli penerbangan yang berdedikasi, yang satu-satunya misi adalah untuk mencari tahu apa yang terjadi pada penerbangan nahas itu.

Beberapa bahkan dipanggil untuk membantu pencarian resmi pesawat, yang hilang pada 8 Maret 2014.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Tidak Mengutuk Tapi Ayo Gugat Israel di PBB

Minggu, 05 April 2026 | 01:55

Energi Transisi Sulap Desa Rentan jadi Resisten

Minggu, 05 April 2026 | 01:32

1.305 Rekomendasi Audit BPK di Kementerian PU Belum Tuntas

Minggu, 05 April 2026 | 01:10

Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Buntut Demo Kenaikan BBM

Minggu, 05 April 2026 | 00:52

Menang di Tingkat Kasasi, Natalia Rusli Fokus Kawal Perkara Pidana

Minggu, 05 April 2026 | 00:32

Pemerintah Desak DK-PBB Lindungi Pasukan Perdamaian di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 00:12

Pelni Sukses Layani 467 Ribu Penumpang Selama Arus Mudik-Balik Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 23:57

KSAD: Tiga Prajurit Gugur, Kami Sangat Kehilangan

Sabtu, 04 April 2026 | 23:32

Menlu Ungkap Ada Tiga Prajurit TNI Lagi Terluka di Lebanon

Sabtu, 04 April 2026 | 23:11

ITERA: Fenomena Langit Lampung Timur Diduga Sampah Antariksa Roket China

Sabtu, 04 April 2026 | 22:42

Selengkapnya