Berita

Anton Tabah/Net

Pertahanan

MUI Desak Aparat Segera Tangkap Perusak Rumah Ketua PA 212

SELASA, 18 FEBRUARI 2020 | 11:25 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Aksi teror kembali terjadi. Rumah Ketua PA 212, KH Slamet Maarif, dilempari batu oleh orang tak dikenal pada Selasa dini hari (18/2) sekitar pukul 03.00 WIB. Kaca jendela rumah pun pecah berantakan.

Tak hanya itu, aksi teror ini kembali terjadi saat Slamet Maarif melakukan shalat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya di Cimanggis, Depok. Seperti teror ke rumahnya, batu-batu dilempar ke arah pintu masjid.

Kejadian ini sudah dilaporkan ke Polsek Cimanggis.


Sejumlah dugaan pun muncul. Paling kuat adalah terkait dengan rencana aksi unjuk rasa PA 212 bersama Elemen Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama yang mendesak penyelesaian sejumlah kasus korupsi.

"Dalam kriminologi, ada embrio kejahatan, ada faktor korelatif, ada ancaman faktual. Dari sini bisa dicari pelempar batu bisa diduga ada kaitan dengan rencana aksi 212 Jumat yang akan datang di Jakarta. Aksi ini menuntut penanganan kasus mega korupsi yang kerugiannya berpuluh-puluh triliyun rupiah, tapi aparat dan penguasa seperti kongkalingkong. Enggan mengusut karena pelakunya orang-orang partai pendukung penguasa," beber Pengurus MUI Pusat, Anton Tabah, saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (18/2).

Karena itu, Anton Tabah pun menduga pelaku teror di kediaman Slamet Maarif tak jauh dari kasus-kasus yang disebutkannya. Setidaknya, pelaku mendapat perintah dari mereka yang memang terkait dengan kasus tersebut.

"Maka saya sebagai pengurus MUI yang juga kebetulan senior Polri berharap pihak aparat cepat menangkap pelaku teror dan ungkap aktor intelektualnya. Supaya segalanya jadi terang benderang, secara tupoksi penyidik memang membuat terangnya perkara," imbuhnya.

Menurut mantan Jenderal Polri ini, aksi teror di rumah Ketua PA 212 punya faktor korelatif kriminogen yang mudah dideteksi dan rasanya tidak akan sulit untuk diungkap.

"Termasuk kasus Harun Masiku dkk, itu sejatinya kasus yang relatif mudah. Tetapi kenapa menjadi sulit ya?" tanya cendikia Muslim ini.

"Dulu tempat HRS biasa sholat n duduk-duduk di padepokannya di Mega Mendung ditembaki. Sekarang yang disasar pimpinan PA 212. Apa umat mau nunggu sampai semua tokoh diteror? Apa tak ada cara menghentikan dukungan kepolisian kepada rezim kalau dianggap sudah nyimpang dari kaidah hukum, UU, apalagi UUD, bhkan juga kitab suci yg jadi pedoman dari hampir 90 persen penduduk nya?" tandas Anton Tabah.

Anton Tabah pun mengingatkan kepada para penegak hukum untuk bertindak adil. Karena hukum dan keadilan yang ditegakkan dengan benar adalah pondasi untuk membuat NKRI tetap kuat.

Termasuk dalam merespons rencana aksi PA 212 pada Jumat mendatang. Karena rakyat memang sudah seharusnya mengingatkan penguasa yang lalai. Salah satu caranya adalah dengan menggelar aksi unjuk rasa.

Terlebih, aksi unjuk rasa pun dijamin oleh konstitusi. Karena siapa pun tak boleh melarang apalagi menghalangi-halangi sebuah upaya penyampaian pendapat masyarakat.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Hari Buruh, Wall Street Libur

Selasa, 08 September 2026 | 08:29

Krakatau Steel Rombak Direksi, Segini Pendapatan KRAS Semester I-2026

Selasa, 08 September 2026 | 08:15

Konflik Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dekati 100 Dolar AS

Selasa, 08 September 2026 | 07:57

OJK Wajibkan Free Float 15 Persen, Tegaskan Transparansi Tanpa Kompromi

Selasa, 08 September 2026 | 07:40

Saat Batu Bara Tertekan, UNTR Makin Mesra dengan Emas

Selasa, 08 September 2026 | 07:21

Anak Krakatau Erupsi, Kursi Bos Krakatau Steel Berganti

Selasa, 08 September 2026 | 07:01

Nellava Group dan Emas Now Pilih Jalur Hukum Hadapi Serangan di Ruang Digital

Selasa, 08 September 2026 | 06:50

Pemerintah Dituntut Siapkan Anggaran dan Kesiapsiagaan Logistik terkait Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 06:09

Kewajiban Moral Lindungi Rakyat dari Manipulasi Harga dan Mutu Beras

Selasa, 08 September 2026 | 05:44

Empat Pejabat Kejagung Diduga Terima Rp40 Miliar dari Tan Kian, Ini Tanggapan Kapuspenkum

Selasa, 08 September 2026 | 05:27

Selengkapnya