Berita

Ilustrasi/Net

Hukum

Mandek Tiga Tahun, Korban BTC Panda Minta Polisi Usut Tuntas Penipuan Investasi Bitcoin

MINGGU, 09 FEBRUARI 2020 | 02:27 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Ribuan korban investasi Bitcoin BTC Panda mendesak Kepolisian Daerah Metro Jaya segera memproses laporan mereka yang telah mandek sejak tiga tahun lalu. Polisi dianggap tak serius dalam mengungkap kasus penipuan investasi virtual yang menggunakan Bitcoin ini.

Kuasa hukum korban investasi Bitcoin BTC Panda, Musa Butar-butar mengatakan, proses penyelidikan kasus ini jalan di tempat sejak Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan menutup investasi Bitcoin BTC Panda pada 2018 lalu. Musa meminta polisi serius kasus investasi bodong yang merugikan korban di berbagai wilayah Indonesia ini.

"Kasus penipuan investasi Bitcoin Panda jalan di tempat selama tiga tahun di Polda Metro Jaya. Belum ada tanda-tanda kasus ini ditangani dengan serius. Sebab, pelaku masih berkeliaran," kata Musa di Jakarta, Sabtu (8/2).


Bahkan, Musa melihat para pelaku ada yang kembali menipu dengan nama investasi lain. "Para terlapor masih menipu dengan nama investasi yang berbeda. Ini sudah sangat meresahkan," ujarnya.

Musa menambahkan, telah mengadukan kasus ini kepada Komisi III DPR RI. Anggota Komisi Hukum DPR, Rudianto Tjen, pun telah menjembatani para korban untuk bertemu dengan legislator Senayan. Para korban dan tim hukumnya telah bertemu dengan anggota Komisi Hukum dari Fraksi PDI Perjuangan Komisaris Jenderal (Purn) Nurdin.

"Kami sudah menyampaikan keluhan atas proses kasus yang mandek ini. Kami berharap pertemuan kemarin bisa mendorong agar kasus ini bisa kembali berjalan dan para pelaku ditangkap," ujarnya.

Selain mengadu ke legislator, Musa juga meminta Himpunan Pemerhati Hukum Siber Indonesia menyorot kasus ini. Musa dan para korban investasi virtual Bitcoin ini telah menyampaikan keluhan yang sama terkait lambatnya proses penyelidikan kasus ini ke Ketua HPHSI Galang Prayogo.

"Kami meminta bantuan agar HPHSI mengawal kasus ini agar berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia," ucapnya.

Menurut dia, polisi harus segera menuntaskan penyelidikan kasus ini agar memberikan rasa aman terhadap investasi virtual yang kini sedang berkembang di Indonesia. Jika tidak segera diusut dengan cepat, kata dia, bakal berpotensi mengurangi rasa aman masyarakat terhadap investasi tersebut.

"Polisi wajib memberikan rasa aman terhadap masyarakat yang menjadi korban ataupun calon korban karena pelaku masih sangat aktif melakukan penipuan sampai hari ini," ujarnya.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya