Berita

Karikatur Harun Masiku/RMOL

Hukum

Dian Permata: Polisi Cepat Tangkap Teroris, Kenapa Kalau Harun Masiku Susah?

KAMIS, 06 FEBRUARI 2020 | 15:09 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Politisi PDIP Harun Masiku, tersangka pemberi suap terhadap Komisioner KPU Wahyu Setiawan hingga saat ini belum tertangkap meski lembaga antirasuh sudah melibatkan Polri.

Harun pun telah menjadi buronan KPK setelah beberapa hari ditetapkan sebagai tersangka suap terkait pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI 2019-2024 pada Kamis (9/1).

KPK juga telah melibatkan Kepolisian untuk mencari keberadaan Harun dan menangkapnya untuk dilakukan proses hukum akibat perbuatannya.


Pihak kepolisian juga mengaku telah menyebarkan informasi di 34 Polda dan ratusan Polres itu juga hingga saat ini belum mampu menangkap Harun Masiku yang dikabarkan sudah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 setelah pergi ke Singapura pada 6 Januari 2020.

Banyak pihak yang heran atas lamanya penyidik KPK maupun Kepolisian untuk menangkap Harun Masiku.

Peneliti senior Institut Riset Indonesia (INSIS), Dian Permata pun juga merasa heran atas hal tersebut. Padahal kata Dian, pihak kepolisian mampu menangkap terorisme lebih cepat sebelum terjadinya tindak kejahatan. KPK juga mampu menangkap buronan kasus korupsi yang kabur ke luar negeri.

"Untuk menangkap teroris aja cepat, tapi kok Harun Masiku aja cepat hilangnya," kata Dian Permata kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (6/2).

Dian pun juga mengaku bertanya-tanya terhadap sosok di balik Harun Masiku sehingga kedua institusi yang memiliki kecanggihan teknologi pun belum mampu menangkap Harun Masiku yang seorang diri.

"Pertanyaan ini siapa Harun Masiku? Kok bisa bikin repot satu Republik kan gitu," herannya.

Dia pun juga bertanya-tanya terhadap upaya KPK dalam mencari dan menangkap Harun. KPK kata Dian harus segera menangkap Harun agar bisa disidangkan kasusnya.

"KPK sudah sejauh mana kinerjanya, seberapa gercep (gerak cepat) menyelesaikan kasus ini?. Kalian yang buka ya kalian juga yang harus tuntaskan ini masalah, jangan sampai kasus ini tenggelam begitu aja, ini jadi preseden buruk," tegasnya.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya