Berita

Menteri Keuangan Sri Mulyani/Net

Politik

Ichsanuddin Noorsy: Sri Mulyani Tidak Mampu Keluar Dari Lingkaran Setan Neolib

SELASA, 04 FEBRUARI 2020 | 18:23 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

. Kritik banyak pihak atas kerja pemerintah dalam 100 hari bukan hanya tertuju kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin. Tapi juga pada Menteri Keuangan Sri Mulyani yang turut dipertanyakan usahanya dalam mengelola perekonomian Indonesia.

Kritik semakin menjadi lantaran dalam acara laporan Bank Dunia di Energy Building, Jakarta, Kamis lalu (30/1), Menkeu berpredikat terbaik dunia ini mengeluh sakit perut mendengar janji-janji politik yang dilontarkan Joko Widodo-Maruf Amin saat kampanye.

Tidak dapat diingkari, kenyataan perekonomian saat ini menguatkan keluhan mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu. Yakni, banyaknya tagihan keuangan yang harus Sri Mulyani anggarkan dalam APBN, akibat janji-janji kampanye Jokowi-Maruf itu.


Pernyataan itu menjadi bukti bahwa secara tidak langsung Sri Mulyani mengakui tidak bisa keluar dari jeratan sistem ekonomi neo liberalisme (neolib) untuk mengelola keuangan domestik.

Artinya, besarnya belanja karena janji-janji bukan dalam rangka amanat konstitusi. Sedang rendahnya inflasi tidak membuat investasi asing langsung meroket.

Padahal, liberalisasi di sektor-sektor strategis sudah dilakukan, termasuk deregulasi dan debirokratisasi yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo-JK sebelumnya. Tapi, semua itu tidak dipandang sebagai hamparan karpet merah bagi investor asing, alias belum menjadi "surga" bagi investasi asing langsung.

Begitulah konklusi yang disampaikan pengamat ekonomi politik dari Universitas Airlangga, Ichsanuddin Noorsy saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (4/1).

"Dia bilang sakit perut kok, berarti dia ngeluh. Ini persoalan sempitnya ruang fiskal beriring dengan besarnya bayar cicilan pokok utang dan bunganya. Dia tidak mampu keluar dari lingkaran setan perekonomian neo liberal," ujar Ichsanuddin Noorsy.

Mantan Komisaris Independen Bank Permata ini kemudian memberi tujuh catatan penting terkait sistem ekonomi neolib yang dijalankan Sri Mulyani.

Pertama, Sri Mulyani telah gagal mengabdikan dirinya kepada investasi asing langsung, walau yang bersangkutan disebut sebagai menteri terbaik.

Respon atas kegagalan ini terlihat pada keinginan Presiden Joko Widodo untuk menghapus hambatan apapun bagi investasi asing. Tekad yang membara atas kehadiran investasi asing itu mewajibkan diberlakukannya Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dan Perpajakan.

"Semangat perjuangan yang luar biasa ini seakan tidak mampu melihat hasil Omnibus Bill di AS, yang disebut penerima Nobel Ekonomi 2001 JE Stiglitz bahwa AS mengidap kanker stadium empat dalam masalah gini rasio dan rasialis," tuturnya.

Catatan kedua, kebijakan neolib Sri Mulyani juga dianggap Ichsanuddin Noorsy sebagai dasar kegagalan pemerintah mendongkrak penerimaan pajak di periode pertama pemerintahan Joko Widodo.

Kegagalan penerimaan perpajakan ini berdampak pada kemampuan pembiayaan negara dan daya beli masyarakat.

"Hasilnya, pertumbuhan bukan hanya stagnan melamban dan daya beli menurun. Itu yang ketiga," sebut mantan Komisaris Pelindo II ini.

Catatan keempat yang disampaikan Ichasanuddin adalah kokohnya Pulau Jawa dan DKI Jakarta soal bagi-bagi kue penguasaan pembangunan ekonomi sejak era Soeharto hingga saat ini.

"Jawa menguasai 57 hingga 58 persen, termasuk DKI Jakarta sebesar 17 hingga 18 persen," katanya.

Selain itu, tingkat pengangguran yang masih tinggi dan didominasi oleh lulusan SMK, SMA, diploma dan universitas sebanyak 7,05 juta orang, membuktikan pembiayaan pendidikan gagal menjawab tantangan perekonomian dan pasar tenaga kerja.

"Bersamaan dengan itu, batas kemiskinan diukur dengan 0,9 dolar AS/jiwa. Sehingga dikuatirkan jumlah orang miskin akan meningkat di tengah ancaman resesi ekonomi. Ancaman ini sama dengan kegagalan menurunkan angka rasio gini," ungkap Ichsanuddin Noorsy.

Sehingga, lanjut Ichsanuddin Noorsy, dapat dipahami jika Indonesia memiliki masalah 3C, credibility (kredibilitas), certainty (kepastian), dan compliance (pemenuhan) sebagaimana tudingan Bank Dunia.

Maka dari itu, catatan ketujuh Ichsanuddin Noorsy berkesimpulan bahwa ekonomi Indonesia dalam ketersesatan yang jauh dan mendalam pada sistem dan kebijakan ekonomi yang tidak sesuai dengan ekonomi konstitusi.

"Itu hasil pemikiran dan tindakan Sri Mulyani yang menerapkan sistem neo liberal. Juga hasil dari sistem amandemen UUD 1945," pungkas mantan anggota DPR/MPR periode 1997 hingga 1999 ini.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya