Berita

Nadiem Makarim/Net

Nusantara

Debirokratisasi Agar Sistem Tidak Kaku, Nadiem: Pak Presiden Jagoannya

JUMAT, 31 JANUARI 2020 | 06:33 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mendikbud Nadiem Makarim mengakui ia belajar banyak dari sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi) terutama soal debirokratisasi. Ia pun mengakui sosok orang nomor satu di Indonesia itu adalah inspirasinya.

"Saya belajar langsung dari Pak Presiden. Pak presiden ini memang jagoannya debirokratisasi. Saya inspired banget dengan kepemimpinan dia," ujar Nadiem saat memberikan sambutannya dalam seminar Indonesia's Talent Deficit di Hotel Kempinski, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (30/1).

Jokowi juga merupakan pekerja keras. Nadiem mengungkapkan bahwa di Kabinet Indonesia maju, Jokowi  bekerja lebih keras daripada yang lain selama 24 jam nonstop.


"BTW (by the way), bagi yang nggak tahu, di Kabinet Indonesia Maju yang kerjanya paling keras itu kerjanya Pak Jokowi. Beneran, itu luar biasa melihat Pak Presiden kerja tuh, dan motivasi dia nggak pernah setop kerja nonstop 24 hours (24 jam)," ungkapnya.

Nadiem mengatakan, selama menjadi menteri, ia telah belajar banyak hal dari Jokowi. Selain berguru soal etos kerja, Nadiem mengakui telah menyerap ilmu seputar debirokratisasi di level pemerintahan.

Hal itu ia sebutkan ketika mendapatkan pernyataan dari audiens seputar peran pemerintah sebagai regulator di bidang pendidikan.

Debirokratisasi, menurut Nadiem, telah membuat sistem pemerintahan menjadi tidak kaku. Ia mencontohkan, debirokratisasi dilakukan untuk mengatur sistem pendidikan tinggi di universitas.

Atas dasar itulah, Nadiem belakangan meluncurkan program Kampus Merdeka yang salah satunya mengatur tentang kemudahan perguruan tinggi untuk membuka program studi baru. Nantinya perguruan tinggi dengan akreditasi A dan B tidak perlu lagi melalui perizinan program studi (prodi) di Kemendikbud.

Nadiem tidak ingin proses penilaian program studi nantinya berbelit-belit dengan aturan-aturan yang menyulitkan. Menurutnya, regulasi yang dibuat sering kali hanya fokus menyetop 10 persen yang buruk sehingga 90 persen regulasi lainnya rugi karena banyak yang tidak terpakai.

"Kalau pemerintah dapat feedback negative, atau apa kita boleh mengakreditasikan secara langsung bagi yang ada complain, yang ada isu atau data yang aneh. Filsafatnya berubah. Yang tadinya sifat regulator semuanya butuh izin, kita ubah kita me-regulate dengan outcome," sebut Nadiem.

Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya