Gubernur Bali I Wayan Koster (kedua dari kiri)/Istimewa
Bali merupakan provinsi yang tidak memiliki kekayaan alam melimpah. Tidak ada emas, minyak bumi, dan barang tambang yang lainnya.
Atas dasar itu, Gubernur Bali I Wayan Koster akan memaksimalkan kekayaan yang dimiliki rakyatnya, yaitu budaya sebagai instrumen utama peningkatan ekonomi masyarakat.
“Budaya harus tetap kita jaga kelestariannya dan gali terus potensinya,†jelas Koster kepada wartawan, Kamis (30/1).
Pernyataan ini juga pernah disampaikan dalam acara konsultasi publik mengenai rencana pembangunan kawasan pusat kebudayaan Bali di Kabupaten Klungkung, Senin lalu (27/1).
Ucapan Koster ini sekaligus menjadi bukti kesiapan dalam merencanakan pembangunan pusat kebudayaan Bali di Kabupaten Klungkung.
Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta menyambut baik rencana itu. Suwirta memastikan, daerahnya siap menjadikan rencana tersebut sebagai program utama pemerintah kabupaten.
Kesiapan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Kabupaten Klungkung merupakan pusat pemerintahan raja-raja Bali pada masa kerajaan. Untuk itu, Klungkung bertekad mewujudkan melestarikan budaya Bali dan menjadikan hal tersebut sebagai instrumen peningkatan ekonomi masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi rencana Gubernur Bali dan siap mendukung realisasi terbangunnya pusat kebudayaan di Kabupaten Klungkung ini," tegasnya.
Suwirta meyakini warganya turut antusias dengan program yang dibangun di atas tanah seluas 318,32 hektare ini. Terlebih banyak fasilitas akan didirikan, mulai dari panggung terbuka berkapasitas 20 ribu orang, panggung tertutup, serta balai pertemuan dengan teknologi terkini. Tidak hanya itu, ada juga museum tari, musik, dan tekstil yang akan menyerap banyak perajin serta tenaga kerja dari wilayah sekitar.
Rencananya, kawasan ini akan dibangun dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan untuk pembebasan lahannya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Bali.