Berita

Foto:Net

Muhammad Najib

Pertarungan Antara Amerika Vs Rusia Di Timur Tengah Dan Afrika Utara

RABU, 15 JANUARI 2020 | 12:58 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

MUNCULNYA Arab Spring yang mulai berhembus awal 2011 dari Tunisia, memberikan keuntungan kepada Amerika dan sekutunya NATO, yang mengklaim sebagai negara-negara demokratis untuk menumpanginya, sehingga musim semi Arab  berubah menjadi badai yang mengobrak-abrik dan meluluh-lantakan dunia Arab, khususnya yang dipimpin oleh rejim otoritarian.

Negara-negara sekutu Rusia seperti Yaman, Irak, Suriah, dan Libia mengalami penderitaan paling parah. Satu-persatu kemudian rontok, dimulai dari rezim Saddam Husein di Irak, kemudian Muammar Khadafi di Libia, diikuti Ali Abdullah Saleh di Yaman.

Hanya Suriah satu-satunya sahabat Moscow di dunia Arab yang mampu bertahan. Lebih dari itu Presiden Basyar Al Assad kemudian mengalahkan para pejuang pro demokrasi bersenjata, yang didukung oleh Amerika, NATO, Israel, dan negara-negara Arab otoritarian.


Keberhasilan Suriah tidak bisa dilepaskan dari dukungan habis-habisan Rusia dan Iran yang melihat Suriah sebagai sekutu satu-satunya yang tersisa. Rusia dan Iran mengirimkan logistik, senjata, dan tentaranya.

Rusia tampaknya terlambat menyadari bahwa di balik aspirasi demokratisasi bangsa Arab, ternyata diboncengi oleh agenda hegemoni Amerika bersama sekutunya Israel dan negara-negara yang tergabung dalam NATO untuk mendominasi seluruh Timur Tengah dan Afrika Utara.

Secara pelan tapi pasti, Rusia yang bersekutu dengan Iran mengkonsolidasi kekuatan militernya, kemudian memukul balik Amerika dan sekutunya. Belakangan Rusia juga merangkul Turki, khususnya untuk menghadapi aliansi Saudi Arabia, UEA, dan Mesir saat mengepung Qatar. Berikutnya Turki dan Rusia juga berperan besar dalam menekan kekuatan Amerika, NATO, dan para pemberontak dukungan Saudi Arabia, UEA, dan Mesir di Suriah, khususnya yang menguasai be perbatasan Suriah-Turki.

Setelah memenangkan pertarungan di Suriah, melalui Iran secara sistematis Rusia kembali menancapkan kukunya di Irak, melalui kekuatan politik dan militar dengan cara mendukung kelompok Syi'ah di negara 101 malam ini. Amerika, NATO, Israel, dan kelompok Sunni dukungan Saudi Arabia, UEA, dan Mesir semakin lama semakin tertekan baik secara politik maupun militer.

Pada saat bersamaan, Pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Abd Hadi Rabbu di Yaman, walaupun didukung secara habis-habisan didukung oleh Saudi Arabia dan UEA, termasuk dengan melibatkan  langsung tentara reguler kedua negara, semakin hari semakin kewalahan menghadapi pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Saat ini, Rusia bersama Turki mengambil peran besar dalam mendamaikan dua kekuatan politik dan militer yang bertarung di Libia. Pemerintahan Government of National Accord (GNA) yang dipimpin oleh Fayez Al Saraj bertarung melawan Libyan National Army (LNA) yang dipimpin oleh Khalifa Haftar. Al Saraj didukung oleh Turki, Qatar, Tunisia, Italia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sementara Haftar didukung oleh Rusia, Saudi Arabia, UEA, Mesir, dan Perancis.

Lobi-lobi tingkat tinggi yang melibatkan kepala-kepala negara telah dilakukan di Moscow dan Ankara. Minggu depan (19/1) akan diselenggarakan pertemuan tingkat tinggi yang akan dihadiri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Mentri Italia Giuseppe Conte di Berlin dengan tuan rumah Kanselir German Angela Merkel.

Pertemuan tingkat tinggi di Berlin ini, akan menghadirkan orang nomor satu dari dua kelompok yang bertarung, yakni Al Saraj dan Haftar. Pertemuan akan dipimpin oleh utusan PBB yang diharapkan akan membuahkan perdamaian.

Mengapa Amerika dan Donald Trump absen? Apakah karena sibuk urusan di dalam negri terkait pemakzulan dan pemilu? Atau sudah kedodoran menghadapi Rusia? Wallahua'lam.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya