Berita

Kapal coast guard China di Natuna/Net

Politik

Tiga Hal Yang Harus Dilakukan Indonesia Di Perairan Natuna Utara

MINGGU, 12 JANUARI 2020 | 22:43 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Indonesia dan China diyakini tidak akan bisa menyelesaikan klaim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang tumpang tindih di perairan Natuna Utara.

Kendati demikian, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk memperkuat klaim di perairan Natuna Utara selain berdasarkan UNCLOS 1982 maupun hukum internasional lainnya.

Tiga hal tersebut dipaparkan Gurubesar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana dalam diskusi 'Pantang Keok Hadapi Tiongkok' di Upnormal Coffee, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Minggu (12/1).


"Pertama, kita hadirkan nelayan-nelayan di sana. Masalah kita sekarang adalah banyak-banyakan nelayan yang ada di sana," ujar Hikmahanto sembari mengingatkan untuk tetap mempertimbangkan koservasi lingkungan laut di perairan Natuna Utara.

Kedua, yakni penguatan peran TNI Angkatan Laut (AL) yang harus ditegaskan kembali agar tidak hanya sebagai penegak kedaulatan, namun juga penegak hukum sesuai dengan UU TNI Pasal 7.

"Kalau berbicara tentang ZEE, maka yang berperan itu kapal-kapal patroli. Kapal patroli ini bisa diemban TNI AL karena Pasal 9 ayat 2 mengatakan bahwa TNI AL berperan sebagai penegak hukum," ujar Hikmahanto.

Kendati demikian, hal ini mengherankan mengingat dalam pandangan dunia internasional, yang seharusnya turun di ZEE adalah kapal-kapal sipil. Namun karena kapal yang dimiliki Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Bakamla sedikit dan tonasenya tidak besar, maka hal itu bisa dikecualikan.

Nantinya, patroli dilakukan dengan dua tujuan, yaitu menangkapi nelayan-nelayan asing yang mencuri ikan dan melindungi nelayan-nelayan Indonesia dari coast guard negara asing.

Sementara terakhir, Hikmahanto menuturkan Indonesia harus konsisten untuk terus menjaga penolakan nine dashed-line.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya