Berita

Jalur OBOR/Net

Politik

Nilai Investasi OBOR China Di Indonesia Capai Rp 890 Triliun

SELASA, 07 JANUARI 2020 | 18:33 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Gagasan China mengenai One Belt One Road (OBOR) kerap kali mendapatkan banyak pandangan negatif. OBOR seakan-akan bentuk lain dari dekolonialisasi atau debt trap.

Namun, dikatakan oleh Dutabesar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun, OBOR tidak dapat dipandang dari sisi negatif semata. Dalam melakukan kerja sama terkait OBOR atau yang sekarang bernama Belt and Road Initiative (BRI), Indonesia juga sangat selektif dan memikirkan betul hal tersebut.

Kembali dijelaskan oleh Djauhari, OBOR yang menjadi inisiatif China itu disinergikan dengan inisiatif Indonesia mengenai Poros Maritim Dunia. Adapun koridor OBOR di Indonesia ditempatkan di empat wilayah, yaitu Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Bali.


Untuk Sumatera Utara sendiri nantinya investasi OBOR akan dilakukan dengan membangun pelabuhan. Sementara di Kalimantan Utara akan dibangun pembangkit listrik untuk PLN.

Sedangkan untuk Sulawesi Utara dan Bali akan difokuskan pada manufaktur dan infrastruktur pariwisata.

Adapun nilai dari investasi di empat proyek tersebut mencapai ratusan triliun rupiah.

"Itu yang menjadi gagasan kita pada saat kita merundingkan itu dan tercantum dalam MoU (Memorandum of Understanding) kita dengan China. Nilai dari investasi yang dihasilkan empat koridor itu sekitar 64 miliar dolar AS (setara Rp 890 triliun, kurs: Rp 13.908/dolar AS)," ujar Djauhari ketika menghadiri kuliah umum di kampus LSPR, Sudirman Park, Jakarta, Selasa (7/1).

Selain itu, diuraikan oleh Djauhari, Indonesia sebagai negara besar yang juga merupakan salah satu negara anggota G20 memiliki daya tawar yang dipertimbangkan oleh China. Artinya, China membutuhkan Indonesia di kawasan.

"Kalau kita lihat ke belakang. Kenapa pendiri-pendiri bangsa kita membina hubungan yang baik dengan China, Rusia, dan AS? Karena mereka mendudukan kita sebagai negara besar di kawasan," ujar Djauhari

"Kalau kita negara besar di kawasan, kita harus punya aliansi (teman) yang strategis. Aliansi strategis ini kita buat agar bisa bersuara di tatanan regional dan global," tambahnya. 

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya