Berita

Dubes Djauhari Oratmangun di LSPR/RMOL

Politik

Lewat Analogi, Dubes Djauhari Urai Duduk Perkara Pelanggaran China

SELASA, 07 JANUARI 2020 | 16:53 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pelanggaran yang dilakukan pemerintah komunis China di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara beberapa waktu terakhir sempat memicu ketegangan.

Sejumlah menteri bersama panglima TNI bahkan harus berkumpul untuk menyatakan sikap atas klaim nine dashed-lines China.

Dutabesar Republik Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun pun akhirnya turun tangan menjelaskan duduk perkara yang terjadi di Laut Natuna Utara.


Namun demikan, Dubes Djauhari tidak menjelaskan secara gamblang. Tapi, menggunakan analogi yang sederhana agar lebih mudah dipahami.

Dia mengibaratkan seperti kehidupan masyarakat yang bertetangga. Ketika seseorang akan keluar rumah tapi ada motor tetangga yang parkir di depan garasi, maka otomatis orang tersebut akan teganggu.

“Walaupun hanya 5 cm saja kan rasanya ingin motor itu kita tendang, kita lempar, kita bakar. Tapi kan kemudian kita memiliki RT. Ada tempat untuk mengadu. Kita bisa minta bantu,” begitu kata Djauhari memberi analogi saat mengisi kuliah umum di kampus LSPR, Sudirman Park, Jakarta, Selasa (7/1).

Menurut Djauhari, jika dalam ruang lingkup terkecil ada RT dan RW, maka dalam ruang lingkup internasional, Indonesia memiliki forum-forum yang serupa untuk melakukan dialog. Artinya, daripada menghabiskan energi yang tidak ada habisnya, maka forum yang ada harus dimanfaatkan.

"Ada forum-forum untuk kita lakukan dialog seperti itu tanpa harus berantem, tanpa harus mengorbankan batas wilayah kita," ujarnya.

Lebih lanjut, Djauhari juga menjelaskan, di dalam wilayah hak berdaulat, di mana pelanggaran tersebut terjadi, Indonesia tidak boleh menjadi pemicu adanya kontak senjata. Namun jika sudah masuk ke wilayah kedaulatan, maka NKRI harga mati.

"Jadi menurut hemat saya, masalah apapun yang ada, kita strict to our principle but we talk each other (tetap pada prinsip tapi kita melakukan pembicaraan satu sama lain),” ujarnya berpendapat.

"Sebelum ke sini kan saya ketemu mereka (pihak China) empat lima kali. Jadi hopefully sudah tenang," pungkas Djauhari. 

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Roy Suryo dan dr. Tifa Dirawat di RS Polri atas Rekomendasi Dokter

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:10

Israel Bom Lebanon Selatan, 16 Tewas di Tengah Sengkarut Gencatan Senjata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:57

Pemulangan Haji 2026 Tembus 121 Ribu Orang, Ratusan Kloter Sudah Tiba di Tanah Air

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:50

Emas dan Perak Tertekan Dolar AS

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:38

Indonesia Tetap di Jalur Emerging Market, Airlangga Janji Tuntaskan Reformasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:19

STOXX 600 Terkoreksi, Saham Barang Mewah di Zona Merah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:06

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik Harus Aman, Ini Solusinya

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:58

Saat Negara dan Masyarakat Berbenah

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:40

Pemerintah RI Diminta Serius Selamatkan ABK Indonesia yang Disandera Perompak Somalia

Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:12

Dilema Tuntutan Mahasiswa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:55

Selengkapnya