Berita

Seorang wanita Iran berduka, memegang foto Jenderal Qassem Soleimani/Net

Publika

Militanisme Islam dan Laut China Selatan

MINGGU, 05 JANUARI 2020 | 15:37 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

ABUBAKAR Ba'asyir sekarat di usia tuanya di penjara Gunung Sindur, Bogor. Kalau dia wafat, maka stempel teroris melekat pada dirinya. Teroris adalah gelar penjahat kemanusian besar yang dipercaya masyarakat kita.

Aktifitas teror yang dikaitkan dilakukan Abubakar (ABB), sebagai pemberi pengaruh, adalah membom beberapa kafe di Bali, 2002, yang menyebabkan ratusan warga Australia meninggal dunia, dan beberapa warga lainnya.

Pada tahun 2002 yang berkuasa di Indonesia adalah rezim "NKRI Harga Mati" dan pada kurun waktu itu Australia disinyalir  terlibat untuk membantu pemisahan Papua dari "NKRI Harga Mati" tersebut. Sebelumnya kita ketahui bahwa Australia dan barat terlibat dalam pemisahan Timor Timur. Mungkin kurun waktu bersamaan hanya membantu kita menganalisa, bukan sebuah sebab akibat alias hanya "Coincidence".


Fakta berikutnya, dalam masa itu, adalah Australia dan barat berhenti membantu gerakan Papua Merdeka. Malah Australia mulai mensponsori unit anti terorisme di pemerintahan dan mendorong kelompok2 Islam moderat berbicara deradikalisasi.

Sebagian orang percaya, Abu Bakar Ba'asyir telah menyelamatkan Indonesia dari intervensi Australia untuk memisahkan Papua. Sebagian lagi tentu mengutuknya sebagai teroris.

Tunggang menunggangi dalam politik adalah hal lumrah. ISIS adalah kelempok perlawanan di Syiria yang beroposisi terhadap Bashar Al Assad, presiden Syiria. Amerika mensponsori ISIS menjadi sebuah kelompok berskala besar, khususnya merujuk Trump, selama kepemimpinan presiden Obama. Trump kemudian berjanji dalam kampanyenya untuk jadi Presiden 2016, akan menghancurkan ISIS. Selama kepemimpinan Trump, ISIS dihancurkan di mana-mana.

Namun, menariknya saat ini Trump membunuh Solaemani, jenderal terkemuka Iran, ketika dia ada di Iraq. Trump mengatakan bahwa Solaemani adalah sosok berbahaya yang akan menjadikan Iraq dan Timur Tengah menjadi tidak stabil. Tindakan Trump ini mendapat kecaman dari PBB, Partai Demokrat USA dan tentunya Iran, Bashar Al Assad (Syiria) dan sekutu mereka. Apakah nantinya Trump akan merangkul kembali ISIS? ini pertanyaan penting ke depan.

Berbeda dengan di Timur Tengah, di Asia Tenggara, Amerika mencari sekutu untuk menghancurkan kekuatan China di Laut China Selatan (LCS). Beberapa tahun lalu, sekutu Amerika, Jepang, menawarkan seluruh pembiayaan perang terhadap China kepada Presiden Philipina, Rotrigo Duterte. Saat ini Amerika juga bekerja keras mencari sekutu di Indonesia untuk menghadapi China, khususnya dalam khasus Uighur, sebagai pintu masuk.

Dalam peta lama, Indonesia adalah sekutu Amerika bersama antara lain Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Thailand, serta tentunya Jepang, Taiwan, Hongkong dan Korea Selatan. Namun, pergeseran sekutu berubah di Indonesia, sejak Jokowi dan Luhut Binsar Panjaitan, membangun hubungan lebih intensif pada RRC, ketimbang USA.

Namun, persekutuan dengan RRC saat ini terbentur dengan dua isu besar yang Indonesia akan mengalami tarik menarik yang kuat. Isu pertama adalah Uighurs. Setengah dunia, sedikitnya, menyatakan bahwa China telah melakukan genocide atau pembantaian etnis kepada bangsa Uighurs di China. Isu kedua, adalah agresi China menguasai perairan Indonesia di Laut China Selatan. Yang terakhir ini secara resmi sudah dinyatakan kementerian luar negeri RRC bahwa perairan Natuna adalah milik mereka.

Pada kedua isu ini, Islam dan militansinya dapat mempunyai kesamaan dengan kepentingan Amerika dan sekutunya. Pada tahun 2002,  kelompok2 pro Abu Bakar Ba'asyir mempunyai kesamaan cinta NKRI dengan rezim berkuasa saat itu. Namun, rezim sekarang yang cenderung terikat dengan "kebaikan" China akan sulit melawan klaim RRC atas tanah air Indonesia tersebut.

Tantangan Kaum Islam Militan

Membela tanah air dan membela Islam di seluruh dunia adalah doktrin kelompok-kelompok Islam militan. Terkait dengan isu Uighurs dan LCS kelompok-kelompok ini tidak punya pilihan lain kecuali mencari sekutu yang sama kepentingannya. Dalam konteks NKRI, TNI sudah menunjukkan gerakan mempertahankan kedaulatan, meskipun Prabowo, Menteri Pertahanan, Luhut Panjaitan, Menko Maritim dan Presiden masih perlu berdiskusi dan berdebat apakah diplomasi atau melawan?

TNI, sebagai organ negara, tentu saja pada akhirnya dibatasi oleh politik diplomasi pemerintah. Sehingga gerakan TNI yang awalnya keras merespon, dapat melunak nantinya.

Kelompok dunia internasional yang mempunyai kesamaan melawan RRC dalam kasus LCS adalah Amerika, Jepang, Korea, Singapura, Malaysia, Philippines, Brunei dll. Persengketaan ini sudah dibawa ke PBB (UNclos), dan klaim RRC dinyatakan tidak benar. Khususnya, klaim sejarah "Nine Dash Line" LCS milik mereka. Tentu saja Amerika dan negara  lainnya akan ikut mempengaruhi situasi Indonesia ini.

Sejarah keterlibatan kelompok Islam militan dalam perang berskala internasional telah terjadi di masa lalu, ketika pemuda-pemuda dan pelajar Indonesia direkrut berperang di Afganistan. Kala itu Suharto yang pro Amerika dan Mahathir/Anwar Ibrahim, menjadi bagian penting mengirim mereka sebagai milisi.

Dalam skala lokal, kelompok-kelompok milisi Islam ini sering juga diajak melawan gerakan separatisme.

Tentu saja jika rezim Jokowi bersandar pada politik diplomasi pada kasus LCS, kelompok-kelompok Islam militan akan muncul subur. Kenapa? Karena pada akhirnya sikap lembek rezim Jokowi terhadap intervensi asing akan menggerus kepercayaan masyarakat pada rezim ini dan sebaliknya akan melihat pada kelompok-kelompok Islam militan sebagai penyelamat tanah air.

Penutup

Kasus Laut China Selatan, di mana pemerintah resmi RRC mengklaim wilayah Natuna sebagai wilayah mereka telah memanaskan situasi dalam negeri. Rezim Jokowi kelihatannya berupaya dengan cara cara bersahabat dan diplomasi untuk merespon soal ini. Rakyat Indonesia terlihat tidak begitu senang dengan cara "soft" tersebut, karena biasanya Indonesia sangat sensitif atas isu kedaulatan.

Bupati Natuna sudah menyatakan siap membangun milisi rakyat dalam mempertahankan setiap jengkal tanah dan perairan kita di sana.

Ummat Islam Indonesia, khususnya kelompok-kelompok militan, tentu sejak awal siap berjihad mempertahankan NKRI, apalagi menghadapi RRC yang dianggap melakukan pembasmian etnis Uighurs yang beragama Islam di sana.

Dalam konstalasi politik global, di mana pertarungan RRC vs. Amerika dan Barat, khususnya USA dan sekutu-sekutunya di wilayah sekitar LCS, akan membuat kompleksitas dan komplikasi persoalan intervensi RRC ke Indonesia membesar.

Karena sejarah membuktikan bahwa kepentingan yang terbelah pada masyarakat kita dapat dimanfaatkan kelompok-kelompok kepentingan internasional untuk bekerjasama. Dan sekali lagi, politik adalah peristiwa tunggang menunggangi.

Untuk membuat koridor politik nasionalisme dan patriotisme yang benar dan terukur, pemerintah dan kekuatan-kekuatan Islam harus duduk bersama agar kepentingan nasional diatas kepentingan kelompok. Kecurigaan kelompok-kelompok Islam atas pesanan RRC tentang isu radikalisme, misalnya, harus dikaji ulang untuk membuat suasana polarisasi diantara sesama anak bangsa berkurang.

Jika persekutuan Amerika dan kelompok-kelompok Islam militan, yang akan terjadi, di satu sisi, serta persekutuan Jokowi  Luhut, Prabowo dll dengan RRC di sisi lain, akan menjadi besar dalam merespon isu Laut China Selatan, maka Indonesia kemungkinan akan mengalami keterbelahan besar nantinya.

Kita harus berpikir keras dan berikhtiar menyelamatkan bangsa kita, tanpa perlu "berterima kasih" pada bangsa lain tentunya.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle. 

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya