Berita

Yudi Latif/Net

Publika

Makrifat Pagi

Lalu Waktu

SELASA, 31 DESEMBER 2019 | 13:06 WIB | OLEH: YUDI LATIF

SAUDARAKU, warsa berubah tak serta merta membawa kandungan dan kisah anyar.

Betapapun, kemunculan tahun baru memijarkan fajar kesadaran, betapa cepat kilatan saat melesat, tinggalkan kita dalam tumpukan masalah yang tersekap di masa silam.

Denyut jantung kita ibarat detak jam, yang setiap detiknya menitikkan kehilangan dan penantian. Yang lewat adalah kekinian yang lekas lepas. Yang mendatang adalah kekinian yang segera menjelang.


Sebuah sekte rahasia menciptakan tanda peringatan pentingnya waktu di ruang bawah tanah Gereja Santa Maria della Concezione, di puncak Stupa Spanyol di Roma. Pada lantai ruangan biarawan Capuchin, di kaki gundukan tulang-belulang manusia, tertulis sebuah inskripsi, ”Siapa kamu sekarang, mereka pun pernah seperti itu. Siapa mereka sekarang, kamu pun seperti itu kelak."

Dengan angin keburukan yang kita tabur hari ini, masa lalu mewujud hantu, masa depan menuai badai. Dengan biji kebaikan yang kita tanam hari ini, masa lalu menjadi lumbung keagungan, masa depan menyongsong panen kebahagiaan.

Dalam Injil Matius (6:34) dikatakan, “sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”.

Daripada menguras daya untuk risaukan masa depan, lebih baik mengisi hari dengan menebar benih kebajikan. Nabi Muhammad bersabda, ”sekiranya engkau tahu kiamat terjadi esok hari, sedang di genggaman tanganmu ada benih, maka tanamkanlah.”

Seorang muda bertanya kepada syekh tua yang sedang menanam pohon. ”Untuk apa menanam sesuatu yang tuan tak akan menikmati buahnya?” Syekh itu pun menukas, ”Apakah yang kamu makan adalah hasil yang kau tanam sendiri?”

Jika pandangan kita ke depan digayuti kabut kerisauan dan putus asa, sebab utamanya karena kita malas menanam pohon harapan.

Banyak orang menyia-nyiakan sang kala, seolah masa itu berlimpah, berputar melingkar. Sesungguhnya, waktu itu ibarat aliran sungai.

”Tak ada seorang pun yang bisa melintasi sungai yang sama dua kali,” ujar Heraclitus. Sungai terus mengalir, manusia terus berubah.

Waktu adalah milik kita yang paling berharga. Dalam kaidah ekonomi, semakin jarang sesuatu dan semakin sering digunakan, maka akan semakin bernilai. Emas, misalnya, cadangannya terbatas, tetapi banyak digunakan, maka nilainya mahal (logam mulia).

Kebanyakan hal yang bisa dimiliki bisa diisi ulang. Cadangan berlian dan emas bisa ditemukan, uang bisa dicetak kembali, tetapi tidak dengan waktu. Waktu yang hilang tak tergantikan. Peribahasa ”waktu adalah uang” tidak sepenuhnya tepat. Waktu, sebagai sumber daya yang paling jarang, jauh lebih berharga daripada uang.

Dalam penggunaan waktu juga berlaku prinsip ”opportunity costs”. Bahwa apa pun yang kita pilih untuk diperbuat berisiko hilangnya kesempatan melakukan hal lain. Dengan uang, kita memiliki pilihan konservatif dengan menyimpannya di bank, tetapi tidak dengan waktu. Kita mengeluarkan waktu setiap saat. Kita ”adalah jam yang setiap saat waktu berkata sendiri”, ujar Shakespeare.

Waktu bukanlah keabadian, sekadar labirin tanda tanya yang di setiap ujung jeda dan pintunya selalu sisakan misteri. Akan tetapi, setiap jejak tidaklah sia-sia. Seperti samudra bermula dari tetes air. Setiap sapa membawa gairah pada sesama. Setiap darma menebar asa pada semesta. Lukisan masa depan adalah pilihan kita menggoreskan warna pada kanvas masa sekarang.

Selamat tahun baru, semoga tumbuh tunas-tunas kebajikan baru demi kebahagian hayat bersama.

Yudi Latif

Cendekiawan muslim

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya