Berita

Din Syamsudin/RMOL

Politik

Din Syamsudin: Jokowi Harus Bentuk TPF Internasional Terkait Isu Penindasan Uighur

JUMAT, 20 DESEMBER 2019 | 00:18 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Dugaan penindasan terhadap etnis Muslim Uighur di Xianjiang, China, dianggap mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsudin, sebagai sesuatu yang belum jelas atau bias isu.

Ia mengatakan, disatu sisi China menunjukan kepada ormas-ormas Islam Indonesia pada saat tour di Xinjiang, bahwa seolah-olah etnis Muslim Uighur tidak ditindas.

Namun disisi yang lain, media-media internasional memberitakan adanya aksi penindasan terhadap muslim Uighur.


Kedua hal ini lah yang membuat Din Syamsudin menyaranakan pemerintahan Indonesia, khususnya kepada Presiden Joko Widodo untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) internasional.

"Coba lah bentuk tim pencari fakta internasional melibatkan banyak pihak, lihat apa yang sesungguhnya terjadi. Tapi jangan kemudian kesana, diatur seolah-olah tidak ada," ucap Din saat ditemui di Kantor Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, di Jalan Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Kamis (19/12).  

Secara pribadi, Din Syamsudin mengakui adanya kejahatan kemanusian yang dilakukan oleh China. Ia mengecam keras tindakan tersebut, karena melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Pemerintah yang hingga saat ini belum menyatakan sikapnya terkait Muslim Uighur, diminta Din untuk mengambil sikap kepedulian yang sama dengan cara membentuk TPF internasional.

"Pemerintah Indonesia menurut saran saya bersuara lah seperti yang saya rasakan itu. Karena orang lain pun (negara lain) kalau ada pelanggaran HAM juga teriak-teriak," kata Din.

"Bukan karena itu Islam, tapi karena manusia. Kita harus menjaga harkat dan martabat Indonesia," sambungnya.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya